Mencuri Ragam Jamuan dari “Pekan Literasi dan Kebangsaan”

Kehadiranku di Gedung Indonesia Menggugat pada hari Sabtu (3/12) lalu langsung disambut dengan aroma kopi yang beradu dengan aroma-aroma lain di ruangan itu, yang dimaksud adalah aroma teman-teman yang sudah seharian baca buku di sana. Hehe.  Aroma harum, kok. Harum. Orang-orang pada ramai baca buku di GIM karena memang sedang ada gelaran Festival Indonesia Menggugat #3: Pekan Literasi dan Kebangsaan, sembari menikmati kopi gratis dari Garasi Mendesa. Dari judul acaranya saja sudah jelas kalau acara ini pasti dipenuhi dengan pameran buku, penjualan buku, diskusi buku, dan jenis informasi literasi lainnya yang tentu edukatif dan menyenangkan. Eh, tapi nggak cuma soal buku doang, lho, ada juga pemutaran film dan beberapa diskusi-diskusi ringan lainnya. Rame!

Acara ini diadakan dari tanggal 1 sampai 7 Desember 2016, kan namanya juga pekan. Karena baru mampir di hari ketiga Festival Indonesia Menggugat #3 ini, pas banget aku dateng, baru mau mulai juga sesi Bincang Komunitas tentang media sosial. Aduh, sebagai reporter ROI! aku langsung merasa terpanggil, nih. “Menengok Rambu-rambu di Internet dan Pentingnya Literasi Digital” adalah tajuk perbincangan sore itu. Kegiatan diskusi itu diisi oleh Indriyanto Banyumurti (Relawan TIK di ITC watch) dan Prita Mulyasari (Wartawan dari Pikiran Rakyat) sebagai narasumber.

Diskusi dibuka dengan memaparkan fenomena meningkatnya pemikiran kritis warga kreatif di pulau Jawa yang masih ‘primitif’ dan menimbulkan bahaya dari menulis kritis, terutama di media sosial. Lho? Kok, kritis jadi bahaya? Bahaya seperti apa? Jadi gini, kalau kita kritisnya sembarangan seperti menggunakan kata-kata yang kurang santun dalam penyampaian sebuah kritik, kalau kritik ini sampai menyinggung sebuah pihak, bisa jadi bahaya walaupun kita nggak bermaksud untuk menyinggung. Karena kalau kita melakukan kritik dengan cara yang kurang pantas, ternyata sanksinya nggak main-main, guys. Tindakan kritis kita yang nggak benar dapat diberikan sanksi hukum yang cukup berat. Jadi, boleh ngutruk, tapi dengan cara yang betul.

Pak Indriyanto Banyumurti menyampaikan, bahwa per akhir November ternyata Undang-Undang ITE sudah direvisi. Tuh, kan, pasti nggak pada tau? Eh, apa sudah pada tau? Hehe. Nah, di kesempatan tersebut, Pak Indriyanto memberi kita sedikit pengantar tentang hasil revisinya dan bisa dibilang sekarang sudah diperingan, kalau warga kreatif nggak percaya, baca aja sendiri. Meskipun ada beberapa pemuda yang berpendapat bahwa kebebasan “freedom of speech” kita terancam, tapi kalau dikit-dikit ada yang emosi terus menggunakan kata A***** ke sebuah PT besar, wah, kamu bisa disikat. Giginya. Sorry. Gara-gara hal itu orang-orang jadi takut menyampaikan kritikannya. Padahal, ya, kritis itu bisa mengasah pola pikir intelektual kita tau. Duh, aku jadi bingung. Kalau nggak kritis, salah. Tapi, kalau kritis juga salah.

Jaringan internet adalah TKP di mana semua kejadian kejam dan menyeramkan ini (bisa) terjadi. Believe it or not, beberapa orang udah pernah mendapatkan sanksi masuk penjara karena dituntut oleh orang yang tersinggung karena dikritik. Kejadian ini terjadi di beberapa media sosial besar, seperti Twitter dan Facebook. Sebenernya, selain internet itu menghibur, ternyata internet juga memiliki manfaat yang tinggi sekali untuk meningkatkan kreativitas kita. Namun rambu-rambu internet (terkadang) sukar diperhatikan, padahal sudah berundang-undang cuy, ini berarti udah sejelas rambu-rambu lalu lintas.

Kak Prita Mulyasari sempat menambahkan bahwa “Pikiran Rakyat sangat merasakan perbedaan media internet dan media koran, saat mem-publish berita lewat internet seperti berhadapan langsung dengan pembaca dan tanggapan bisa secara langsung disampaikan”. Di suatu kejadian, PR pernah salah menyampaikan nama pemenang pertandingan bola dan tanpa tedeng aling-aling, publik terus ‘mengoreksi’ dengan cara yang kurang santun selama 3 minggu tanpa henti. Huhuhu. Sulit sekali secara mental untuk menghadapi kritikan yang berlebihan seperti itu. “Tanggapan bisa sangat jahat, namun bertanggap itu peran mereka sebagai pembaca,” ujar Kak Prita.

Kita sebagai pengguna media sosial harus tetap hati-hati, pokoknya kalau lagi emosi mending jangan megang gadget deh. “Critical thinking kita harus dievaluasi terlebih dahulu sebelum bertindak,” kata Pak Indriyanto. Keragaman kultur dan sosial di Indonesia juga perlu dipahami. Yang terakhir, nalar kita harus kuat dalam menerima sebuah informasi. Kadang society kita ini gullable sekali, mudah percaya dengan hoax- hoax padahal teh hoax. Kumaha, sih, mereka teh?

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot