Makna Kemerdekaan di atas Penderitaan “Musuh”

Udah lama nggak nulis yang berat berat nih ah, yeuh, simak editorial edisi kemerdekaan ini sama kalean semua!

Nah, kita mulai dengan kilas balik ke waktu kita kecil dulu. Biasanya pas 17-an tuh, pasti ngumpul sama anak-anak karang taruna buat bikin lomba makan kerupuk atau balap karung. Nggak ngerasain? Wah, bukan anak komplek nyak kamu? Haha. Sori.

Ketika beranjak remaja, mulai “teuing kamaranatah babaturan karang taruna, ini adalah fase yang Aku anggap memasuki masa “apatis”. Makna kemerdekaan yang identik dengan lomba dengan siratan makna perjuangan, sekarang lebih kepada berjuang untuk beresin skripsi atau hal lain yang sifatnya nggak kalah penting. Hal itu sebenernya dirasakan oleh hampir seluruh temen-temen si Aku; rasa kehilangan makna hari kemerdekaan. Apalah 17 Agustus kalau bukan upacara dan lomba di lingkup RT? Menariknya, makna dari kemerdekaan dan perjuangan Indonesia ini Aku temukan ketika di awal Agustus lalu berkesempatan menghadiri upacara sakral penghormatan Bom Hiroshima dan Nagasaki.

Sebagaimana Ibu Kokoy, guru sejarah waktu SMA bilang, “Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan ketika tau Jepang kalah!” atau ungkapan “Keahlian mengambil kesempatan dalam kesempitan”. Kita dijejali dengan sejarah janji Jepang untuk kemerdekaan, dokuritsujunbinkai, atau orang-orang yang ada di balik proklamasi kita. Menjadi pandangan yang mencengangkan ketika melihat kejadian Kemerdekaan Indonesia dari kacamata orang Indonesia yang saat itu menghadiri upacara kejadian yang sangat berpengaruh dengan Kemerdekaan Indonesia. Eug siah, intelek kieu kalimat teh lieur! Macana lalaunan aja ya. Sip.

Tanggal 6 Agustus silam, merupakan tanggal di mana “Little Boy” diterjunkan oleh Amerika Serikat di Kota Hiroshima. Bom tersebut melumpuhkan seluruh kota dan membuat luka traumatik luar biasa bagi Jepang yang membuatnya memilih untuk pasif dalam militer. Ketika menghadiri upacara, kita seolah ditarik kedalam emosi luka mendalam yang dialami oleh masyarakat Hiroshima, terlebih ketika Aku berbicara dengan salah satu korban selamat dari bom tersebut.

Dalam perspektif-ku, penjatuhan bom tersebut membuat Jepang mengesampingkan posisinya dalam perang, tentang BPUPKI, dan segala hal lainnya, kecuali pemulihan kota. Terlebih, seminggu kemudian Kota Nagasaki menjadi sasaran selanjutnya untuk kembali menderita.

Apabila Aku ditanya tentang rasa bangga atas Kemerdekaan Indonesia, aku akan jawab bangga dong! Tapi, kalau ditanya soal pantaskah kita bangga di sela penderitaan orang lain, itu akan berbeda. Meskipun kelihaian para golongan muda membujuk golongan tua merupakan sebuah taktik perang, namun ketika berbicara tentang sisi humanis modern ini, maka akan menjadi sebuah kisa pilu bagaimana kejayaan suatu bangsa biasa diperoleh dari kesengsaraan bangsa lain. Mungkin terkesan agak sedikit berlebihan, pemikiran macam “Ya kalau Jepang nggak dibom, ya kita nggak bakalan merdeka juga dong!” terbesit di pikiran warga kreatif, ngan, kela yeuh, mari kita sedikit bicarakan tentang emosi dalam keterpurukan dan bagaimana seharusnya Indonesia belajar dari keterpurukan itu.

Hari Minggu itu Aku duduk bersamaan dengan tamu undangan, menyaksikan langsung pidato Shinzo Abe (Perdana Menteri Jepang) mengenai makna perdamaian. Banner dan poster disebarkan sudah semenjak 2 hari sebelumnya, yang berisi tentang makna perdamaian dan umpatan untuk Abe dan segala kebijakan dalam negerinya mengenai perubahan keaktifan militer Jepang. Dari sebaran kertas, tensi di kota ini sangat tegang dalam konteks perdamaian. Isu militer dan perang menjadi sangat sensitif bagi para korban selamat; generasi tua yang merupakan satu-satunya manusia yang terpapar serangan bom atom dengan radiasi sedemikian rupa.

Bagi masyarakat Hiroshima, terutama golongan tua, kepasifan militer Jepang merupakan hal yang dirasa sangat tepat. Terlebih karena perjanjian perdamaian yang dibuat pasca menyerah di Perang Dunia ke-2 membuat Jepang “dilindungi” di bawah kuasa Amerika Serikat. Ada rasa khawatir akan “kehancuran” kembali apabila Jepang menjadi offensive secara militer. Beberapa masyarakat di kota ini beranggapan bahwa alasan dijatuhkannya bom adalah karena serangan Pearl Harbour. Mereka memandang keagresifan tersebut membawa malapetaka bagi negara, karena menargetkan masyarakat sipil, bukan pada tentara.

Salah satu perspektif menarik ketika Aku berbicara tentang balas dendam dengan salah satu korban selamat, Keiko. Beliau mengatakan bahwa penjatuhan bom merupakan sebuah konsekuensi dari perang yang nggak bisa dihindari, beliau juga menekankan tentang nilai usaha dalam kepasrahan lewat ceritanya. “Balas dendam bukan merupakan hal yang baik ketika itu adalah resiko dari apa yang kita lakukan, lebih baik berfokus pada bagaimana untuk menjalani hidup kedepannya,” tutur Keiko.

Di hari kemerdekaan kita ini, seharusnya menjadi hari refleksi diri kita dan kontribusi kita terhadap kemajuan negara yang dibangun lewat kultur yang terkonstruksi. Mari akhiri tulisan yang agak panjang ini dengan menggantungkan cerita dan menghasilkan multi interpretatif alias kentang dan mulai bertanya, “Apakah Indonesia harus kena trauma mendalam dulu, baru bisa sadar dan maju?” atau “Trauma macam apa yang dibutuhkan bangsa kita?”.

                                                                

PS: karena nggak diperbolehkan untuk mengambil foto selama acara berlangsung, foto yang digunakan merupakan dokumentasi milik pemerintah Jepang yang dikeluarkan untuk umum. Foto header merupakan rangkaian kegiatan “Lantern Festival” yang bertemakan perdamaian.