Makin Sayang ke Kesenian Sunda di “Festival Ulubiung”

Hari Minggu yang biasanya aku leha-leha selimutan di kasur, kali ini mandi dengan penuh suka cita. Karena mau dateng ke Festival Ulubiung yang diselenggarakan Minggu (8/11), di Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok dan Tanggulan. Tapi dasar kelakuan nggak berubah. Bukannya langsung berangkat, malah leha-leha lagi di depan tv sambil makan gorengan. Walhasil ketiduran lagi. Parah.

Setelah mengumpulkan nyawa sembari nguliat akhirnya aku makan gorengan lagi. Eh, maksudnya berangkat menuju Dago Pojok dan Tanggulan seusai sholat dzuhur dulu. Biar barokah. Sampai di sana aku langsung disambut sama panitia Festival Ulubiung. Suka jadi bangga ih! Aku ditunjukin salah satu inovasi terbarunya, yaitu aplikasi Bandung In Your Hand yang bisa kamu donlot di Play Store. Kamu bisa tau cerita atau pembuatan setiap mural di setiap tembok yang ada di sana dengan cara buka aplikasi Bandung In your Hand, lalu scan aja ke tembok yang ada mural-nya, secara otomatis bakal muncul deh, dokumentasi pembuatan atau cerita dari mural tersebut. Keren gini Bandung teh. Makanya nggak heran kalau Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok Tanggulan akan diresmikan sebagai Kampung Augmented Reality pertama di Indonesia berkat kerja sama dengan Bandung In Your Hand.

DSC_0081
Untung nggak ada cerita yang laen pas di-scan.

Setelah asik liat-liat berbagai wujud seni rupa, seperti lukisan, mural, foto dokumentasi, patung, pameran instalasi, dan lainnya. Aku melipir ke depan panggung, ternyata di sana lagi ada pentas kesenian dari ibu-ibu warga setempat yang membawakan sebuah tembang Sunda, tapi aku teh gatau tembang apaan ih. Hampura. Tembangnya enakeun, berhasil bikin pengunjung sebagian pada joged dan sebagian lagi pada ketawa liat orang-orang joged dengan syahdu.

Nggak cuma performance art yang ada, di Festival Ulubiung ini, kita juga bisa lihat seni pertunjukan Wayang Golek, Pencak Silat, Jaipongan, Gondang, Reog, Calung, Kaulinan Barudak, Teater, Perkusi, Musik Dapur Ibu-Ibu Cicukang dan masih banyak lagi. Selain berbagai seni pertunjukan tersebut tersebut, kegiatan lain juga digelar di ruang-ruang kampung lainnya. Ada lomba memancing di area pemancingan RT.07, pertunjukan Reak dan panjat pinang di lapangan RT. 04, dan pertunjukan kesenian Buhun di kawasan RT.09.

DSC_0097
Ibunya seneng, akunya juga.

Aku sempet penasaran sama konsep acaranya, ternyata setelah nanya kesana-kemari, nama Ulubiung memiliki arti “bersama dan gotong royong”. Festival ini merupakan buah dari semangat kebersamaan dan kolaborasi segenap warga Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok Tanggulan. Aku juga ngobrol-ngobrol, nih, sama Rahmat Jabaril, seniman penggagas kampung kreatif ini, dia bilang, “semangat yang dimiliki oleh para warga tersebut merupakan modal yang sangat kuat untuk menjadikan kampung ini sebagai basis budaya, pendidikan, dan ekonomi.” Tentunya semangat dan kreativitas warga Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok Tanggulan layak untuk dirayakan bersama-sama. Makanya, Festival Ulubiung terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran alias gratis warga kreatif!

Hujan turun menjelang sore, tapi aku nggak bingung harus gimana. Neduh aja. Ya, iya lah. Tapi aku neduh sambil jajan aja karena di Festival Ulubiung ini ada bazzar yang menjual berbagai barang dan makanan khas Sunda. Setelah perut kenyang dan beli sedikit barang, aku nungguin si hujan. Niatnya kalau reda pengen menelusuri festivalnya lagi, tapi karena hujan nggak berhenti aku jadi pulang deh, dengan berat hati. Weekend kali ini enak gini, nuhun Festival Ulubiung!

 

Foto oleh : Raka’ Ubaidillah F

Menghabiskan banyak waktu di dapur. Kamu apa kabar?