Littlelute: Musik dan Kenangan Masa Kecil

Mungkin banyak yang nggak tau kalau tanggal 1 Juni kemarin itu merupakan Hari Anak Sedunia. Wajar sih, kalau banyak yang nggak tau, soalnya emang nggak terlalu diekspos gitu sama media. Media mah lebih seneng fokus sama gosip artis atau pejabat dibanding merhatiin anak-anak. Suka sedih da kalau gitu teh.

Nah, pas inget Hari Anak Sedunia itu tetiba saya langsung kangen sama lagu-lagu yang saya denger semasa anak-anak. Soalnya kalau sekarang penyanyi cilik macam Trio Kwek-Kwek, Sherina, Tasya, Joshua itu udah jarang ditemuin. Bukan berarti nggak ada, lho ya. Tapi buat nemuin penyanyi cilik yang nyanyi lagu bertema anak-anak itu susah banget. Pencipta lagu anak-anak macam Papa T. Bob juga, udah nggak terdengar lagi kabarnya. Sedih, #SavePapaTBob.

Sekarang mah anak kecil udah tau galau, pacaran, cinta-cintaan. Ckckck. Beda banget sama masa kecil saya dulu yang lebih mikirin gimana caranya buat bangun pagi biar nggak kelewat buat nonton kartun favorit.

Tapi ternyata ada juga band yang peduli akan hal itu, mereka adalah Littlelute. Sebuah grup musik beranggotakan Dhea (vokal), Atse (ukulele), Farid (mandolin), Boiq (mandola), Ndang (ukulele), Rengga (u-bass) dan Bob (perkusi) yang membawakan musik bertemakan liburan dan juga anak-anak. Kebetulan pas Keuken #6: Taste In Transit kemarin mereka main, yaudah saya samperin aja mereka. Dan saya berkesempatan buat ngobrol sama salah dua personelnya, Dhea dan Ndang. Penasaran apa yang saya obrolin? Yuk, cekidot!

Pertanyaan dimulai dari... sekarang!
Pertanyaan dimulai dari… sekarang!

Mulai dari pertanyaan basic dulu, deh. Kenapa dinamain Littlelute?

Dhea: Littlelute itu artinya… jadi “lute” itu kan alat musik petik yang paling awal, jadi kayak nenek moyangnya gitar dan kawan-kawan. Nah, kita pakai kata “lute” ini buat menjelaskan kalau instrumen yang kita pakai tuh alat petik yang kecil-kecil, makanya ditambahin kata “little” didepan. Dan jadilah Littlelute.

Oh, iya iya. Kalau sejarah terbentuknya sendiri gimana?

Dhea: Awalnya Atse punya keinginan buat bikin band pakai ukulele. Soalnya dia punya harapan kalau ukulele tuh bisa naik kelas dan dipertontonkan di atas panggung. Kan, biasanya ukulele diidientikan dengan pengamen, nah, dia ingin menaikan ukulele supaya layak buat ditonton banyak orang. Pada akhirnya, dia ngumpulin beberapa orang dari rekomendasi temen-temennya. Dan kebetulan orang-orang yang direkomendasikan itu lagi ngulik. Pas ngajak Farid, dianya lagi ngulik mandolin, pas ngajak Boiq, dianya baru selesai bikin mandola. Jadi, akhirnya kita ketemu aja.

Kalau band lain itu terbentuk dari tongkrongan atau gimana, kalau kita itu emang sengaja dikumpulin sama Atse. Dan akhirnya terbentuk deh si Littlelute ini.

Kalian mengkategorikan genre Littlelute seperti apa?

Dhea: Sebenernya kita sendiri tuh nggak mau kita mainin genre apa. Karena selain kita emang nggak tau genre yang kita mainin, kita juga nggak mau bikin lagu berdasarkan satu genre tertentu. Pokoknya Littlelute dengan referensi masing-masing personel yang berbeda, kita bikin musik yang bernuansa liburan, yang kira-kira cocok buat main ke pantai, cocok buat nge-trip, kita bikin lagu yang kayak gitu. Tapi kita sendiri nggak nyebutin genre kita apa.

In action!
In action!

Rencana kalian dalam waktu terdekat ini apa? Rilis single, EP, album atau apa?

Dhea: Sebenernya nanti pas pertengahan bulan puasa kita bakalan mulai recording buat… insya Allah, LP.

Target rilisnya kira-kira kapan?

Dhea: Karena produser kita galak, kita dituntut dalam 3 minggu buat menyelesaikan semuanya.

Pokoknya abis lebaran rilis gitu yaa?

Dhea: Iya, abis lebaran rilis. Ahaha.

Pertama kali saya denger, musik kalian mirip sama Shugo Tokumaru, apa bener kalian ngambil influence dari doi?

Dhea: Kita kalau secara band sendiri nggak meng-influence ke siapa-siapa. Soalnya setiap personelnya punya influence yang beda-beda. Contohnya saya, saya suka sama yang ala-ala Fleet Foxes, tapi yang lain itu punya referensi yang beda. Dalam proses kreatif bikin lagu, kita saling merespon gitu. Misal, Atse punya materi lagu dari awal sampai akhir, nah ditimpali sama Mandolin dan instrumen lainnya. Dan kita ngembaliin lagi interpretasi musik kita tuh ke penonton. Karena term of reference and feel of experience tiap orang itu beda-beda.

Kalian tau gak kalau tgl 1 kemarin tuh Hari Anak Sedunia? Apa sih kenangan masa kecil yang paling kalian inget?

Dhea: Kita sebenarnya sudah menuangkan momen yang paling diingat pada masa kecil itu di lagu Childhood Story. Secara keseluruhan lagu ini menceritakan tentang perasaan-perasaan yang nggak kita rasain lagi ketika udah beranjak dewasa. Contohnya pas kita udah dewasa, kita nggak disuruh-suruh lagi buat mandi sama orang tua. Itu sebenernya momen-momen kecil, tapi ketika diinget-inget itu… ih, lucu juga yaa.

Waktu kecil kalian pasti punya lagu favorit, dong. Nah, kalau lagu favorit kalian semasa kecil itu apa?

Ndang: Nina Bobo, sih yang pasti. Hahaha.

Dhea: Kalau aku waktu kecil sukanya Jikustik yang judulnya Setia. Anjir. Jadi aku waktu kecil pernah Agustusan nyanyi lagu Setia. Aku dari kecil emang udah pengen jadi vokalis, nge-cover lagu Jikustik. Pantesan anak-anak sekarang lagunya galau-galau yaak, lagu Coboy Jr.

Ndang: Kita juga bikin musik sebenernya buat travelling bareng keluarga atau anak-anak gitu. Mungkin anak-anak sekarang bukan nyanyiin lagu yang semestinya, malah nyanyiin lagu cinta-cintaan gitu. Mulai sekarang, sih, harusnya nyanyi lagu Littlelute. Soalnya lagu kita itu ceria dan anak-anak banget.

Jadi, kalau saya sebut musik Littlelute itu lagu anak-anak?

Dhea: Boleh juga sih, nggak apa-apa. Cuma sebenernya kalau ini disebut lagu anak-anak, ini masuknya lagu anak-anak yang melakukan pemberontakan terhadap orang tua kali, yaa. Jadi anak-anak yang nggak mau diatur gitu. Hahaha.

Gimana harapannya terhadap kurangnya lagu anak-anak sekarang ini?

Dhea: Sebenernya kita berharap selain ke musisi yang memproduksi lagu anak-anak yang lebih berkualitas, kita juga berharap medianya mendukung. Karena kita liat juga sekarang acara untuk anak-anaknya udah kurang. Kalau jaman dulu kan kita punya acara Kring Kring Olala, tapi kalau sekarang kan acaranya udah nggak ada, jadi percuma kita punya lagu sebagus apapun kalau medianya nggak mendukung. Jadi kita berharap semua orang yang peduli sama generasi penerus bangsa Indonesia saling mendukung.

Ndang: Kalau medianya mendukung pasti banyak band yang pengen bikin lagu anak-anak. Karena kalau nggak ada medianya kan, buat apa bikin?

Dhea: Anggap aja ada acara musik macam Inbox, Dahsyat, dan lainnya, tapi buat anak-anak semua yang bener-bener ceria gitu.

Ndang: Inbox Kids gitu. Hahaha.

Awas, ngahalang pesawat.
Awas, ngahalang pesawat.

Coba deskripsikan masa kecil kalian dalam satu kata.

Ndang: Senang

Dhea: Petualangan

Nah, itulah cuplikan ngobrol gemas saya bersama dua personel Littlelute. Mari kita doakan agar pengharapan lagu anak-anak untuk booming kembali, dan buat Littlelute sukses selalu! Ciao!

__________________________

Twitter: @littlelute_

Soundcloud: soundcloud.com/littlelute

Neng, ayo neng. Ayo main pacar-pacaran.