Act Like A Concert, Teenage Death Star: Penguasaan Panggung yang Bagus, oleh Penonton (Lagi !)

Begitu tau acara ini dibikin sama 3Hundred, aku jadi makin hepi nonton Teenage Death Star (TDS). Cukup teryakinkan aja, sih, sama konser The SIGIT dan Black Rebel Motorcycle Club sebelumnya. Sayangnya, mereka profesional. Aku kira aku bisa masuk dengan nyogok pakai sebungkus rokok kayak kalau nonton Persib.

Bertempat di IFI, 8 Maret 2014, aku sempat lupa diri malah mau beli hp ke BEC. Untung aku segera melihat sekumpulan muda-mudi di depan IFI yang disesaki asap rokok. Dari penglihatanku, masih banyak orang yang berkerumun di luar ketika Jeni Be Good dan Zaggle Griff membuka konser ini. Aku juga. Tapi, kata temenku, dua band tadi boleh juga. Boleh diadu, mie instan superior.

Sekitar setengah sepuluh, TDS benar-benar main. Aku bergegas masuk, lalu kudapati venue auditorium IFI terhebos bau minuman yang nggak asing bagi pencinta produk kios jamu. Asik, nih, bakal tercipta crowd yang apik nan beringas. Namun sayang, gerakan liar itu hanya terjadi di barisan depan. Barisan belakang ada, sih, yang joged, sambil angguk-angguk ala penonton band post-rock.

Pandanganku tertuju pada dekorasi panggung, ada kepala macan yang diikat rantai, yang dipegang oleh satu kepalan tangan. Satu lagi ke mana? Yang tau jawabannya dapet kaos distro. Dari kelima personil, aku bingung sama Iyo. Mau-maunya dia pakai kaos band Muchos Libre yang kemarin baru bubar. Tercium konspirasi kongsi dagang swasembada libre, karena hadir Dali dan Dila, dua vokalis singkayo. Lagu-lagu di album lawas Longway To Nowhere dibawakan mendekati versi mp3, karena sound-nya madepp.

Favoritku ketika The Death of Disco Rabbit dibawakan, karena seisi ruangan kompak bertepuk tangan, sekompak tepuk pramuka di hari khusus ekstrakurikuler. TDS menyempatkan pula waktu bagi penonton untuk memainkan semua alat musik termasuk mic. Ini seperti tradisi, karena mereka juga melakukannya saat Secret Gig, Maret tahun lalu. Nggak ada keributan, cupu! Namun di sela-sela kecupuan itu, terucapkan quote Iyo tentang kebobrokan hukum. “Jangan salahkan kalau kalian menjadi rebel, salahkan mereka mengajarkan hal yang tidak baik”. Setuju deh.

Semua rehat. Kecuali Sir Dandy. Untuk menurunkan tensi yang semakin liar, Acong akustikan membawakan lagu Anggur Merah dan Juara Dunia, tapi nggak sampai selesai. Akhirnya yang lainnya muncul lagi dan kembali menyuguhkan kericuhan lewat lagu macam I’ve got Johnny In My Head dan I Kiss Your Sister In The Kitchen, dua lagu yang masuk kompilasi JKT:SKRG. Sadar waktu sudah mendekati akhir, penonton menghabiskannya dengan enak-enakin diri. Lompat ke sana-ke sini. Kera sakti. Konser malam itu diakhiri dengan lagu pertama mereka, Absolute Beginner Terror. I’m a teenage! Liar!

Pecah deh. Selalu senang setiap habis nonton Teenage Death Star. Meski lagu-lagu di album The Backyard Tapes; Early Years, 88-91 nggak dibawakan, seenggaknya mereka bisa merubah ruangan kecil auditorium menjadi sebuah wahana senang penghilang rasa gundah yang selalu menemani hari-hari Zaskia Gotik.

(sumber foto: instagram.com/ilhamkoco)

merokok dengan beat the devil’s tattoo dari black rebel motorcycle club.