“Liga Musik Nasional X” Hadirkan Konsistensi dalam Hepi-hepi

Kayaknya udah nggak begitu asing kalau sekarang di beberapa ruas jalanan Bandung selalu ketemu yang namanya macet. Bahkan di hari-hari biasa aja jalanan di Bandung udah bisa bikin rudet, komo deui lamun weekend, buat yang nggak kuat mah pasti udah ngutruk sambil update di medsos, padahal yang update juga kan bawa kendaraan. Berarti bikin macet juga? Huhu, Jadi serba salah dong ya.

Termasuk di hari Sabtu (2/9) kemarin, kendaraan yang mengarah ke Jalan Purnawarman lumayan padat. Ada angkot dengan segala tindak-tanduknya, ada antrean motor driver ojek online yang mejeng, dan ada saya juga sama iring-iringan motor lain yang masuk ke IFI. Tapi, kalem, motor yang masuk ke IFI bukan mau pada nangkring kopdar klub motor, tapi memang hari itu ada kegiatan dari paguyuban Liga Musik Nasional yang ke-10, yang dihelat di Auditorium IFI. Hehe, tempat kojo kita semua. Antrean kendaraan dan muda-mudi yang masuk ke IFI lumayan padat. Bukan tanpa alasan sih, pasalnya di gelaran Limunas ke-10 ini jajaran line up diisi oleh porsi berbahaya; Santan, Jeroan, dan Emping. Waduh, rawan asam urat, sorry. Asli, bahaya, soalnya malam itu gelaran Limunas ke-10 siap dibuat jadi bagus oleh Terapi Urine, Mooner, dan Komunal. Dengan penuh kesadaran, malam itu saya ngerasa IFI mendadak heurin seperti di Pasar Baru. Teu~

Acara dimulai sekitar jam setengah delapan malam. Ya, meski nggak tepat sesuai waktu yang dijanjikan, tapi teu nanaon, saya jadi bisa jajan baso tahu dulu. Setelah ada aba-aba acara akan segera dimulai, muda-mudi yang mayoritas pake kaos item itu murudul paboro-boro masuk ke Auditorium IFI dan langsung berbaris rapi tanpa diberi komando dulu. Mantap, seperti antrean semut hitam. Tapi, bukan lagu Godbless.

Tanpa ada basa-basi banyak, semua yang hadir langsung disambut oleh Terapi Urine sebagai opener di hajatan Limunas kali ini. Di awal, unit grindcore antiq yang malam itu berseragam ijo-ijo langsung memainkan tembang-tembang pilihan para personilnya. Meski penonton lebih banyak diem sambil sesekali ketawa-ketiwi, tapi Yunendra Adiputra (Vokal), Andry Joe (Gitar), Aris Nugraha (Gitar serta Kandidat Bogor 1), Qori Hafiz (Bass), dan Fikry (Drum) terus nge-gass hingga penonton mulai nyanyi bareng di tembang Trash, Tacvlt, dan Cicil. Penampilan mereka malam itu ditutup dengan lagu yang saya lupa judulnya, hahaha. Hampura ya.

Setelah beres, penonton dikasih waktu 15 menit buat rehat dulu sebelum selanjutnya bakal digenjot oleh Mooner. Baiklah, akhirnya saya ngaso sebentar sambil ngecek gerbang toko BEC. Ternyata, alhamdulillah, masih pada buka, masih ada yang balanja. Hehe. 15 menit berlalu, dan saya langsung masuk lagi ke venue. Wadaw, semakin malam, malah semakin rame.

Sebagai yang jarang menyaksikan Mooner secara langsung, saya jadi penasaran dengan aksi panggung dari unit supergrup yang digawangi Rekti (Bass), Marsheilla (Vokal), Absar (Gitar), dan Tama (Drum) ini. Tanpa tedeng aling, Mooner langsung memanaskan IFI dengan tembang-tembang dari album Tabiat (2017) ditambah satu cover lagu yang bertajuk Dreamer milik The Slave. Ternyata ekspektasi saya terbayar, kontan di payuneun raray. Meski unit pariaman blues ini memang nggak begitu atraktif, tapi setelah menyaksikan Mooner, penonton jadi lebih panas dan lebih ngesang. Hehe, karena kondisi sound yang hauce, malam itu saya tasbihkan kalau saya juga lebih bisa menikmati Mooner secara langsung dibanding cuma dengerin via CD. Tapi, satu pertanyaan yang cukup mengganggu saya malam itu, “kemana sih, The Slave?”

Ingkar dijadikan lagu penutup aksi dari Mooner. Setelahnya, tanpa ada arahan, penonton langsung bubaran istirahat dulu buat ngarenghap dan ngelap kesang yang kalau berkerak malah jadi lengket di leher. Sori. Tapi, nggak sampai menunggu lama, penonton sudah langsung paboro-boro lagi masuk ke venue. Tentu saja, semua ingin ada di garis terdepan meyaksikan Komunal yang menjadi pawang terakhir di helatan Limunas ke-10 ini. Kuartet heavy metal – blues ini langsung disambut dengan “wawewo” khas penonton, tapi sayang, cuma MasDod aja yang digorowokin namanya. Tapi, yang lain juga disambut dengan kekeprok. Meriah lah.

Tanpa ada ba-bi-bu tembang andalan seperti Pasukan Perang dari Rawa, Budaya Purba, Adong Nang DiadaHitam SemestaTarankanua, Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone, dan beberapa lagu lain dari ketiga album terdahulunya sukses dibawakan satu per satu. Bikin saya inget sama keriuhan dan keintiman #GemuruhMusikPertiwi di 2013 lalu, suasana malam itu nggak jauh berbeda. Cuma pas 2013 mah saya masih sekolah di SMK.

Sabtu malam itu meriah dan menyenangkan! Teman-teman saling mengambil alih mic, stage dive, dan berbagi kesang terjadi hampir di setiap lagu. Waduh, seru pisan. Kamu yang malam itu dateng, pasti merasakan keseruannya. Pokoknya, buat kamu yang nggak bisa dateng, watir pisan.

Rasanya nggak terlalu berlebihan kalau saya menganggap Limunas sebagai kolektif dari Bandung yang tau caranya untuk bersenang-senang. Eh, atau terlalu berlebihan ya? Hahaha. Tapi, salut pisan sama konsistensi dari Liga Musik Nasional yang selalu bisa menggelar  gigs yang cukup eksklusif, mampu menghadirkan teman musisi yang jarang atau bahkan mereka yang belum pernah mampir ke Bandung, juga kemampuan mengemas acara dengan baik. Tentu, semua itu perlu kita apresiasi dengan cara datang ke setiap helatan yang mereka buat.

Iya, kolektif swadaya ini memang “aneh”. Diantara helatan mewah yang sering hadir di Bandung, Kolektif Limunas masih saja mau terus bergerilya untuk selalu memberikan daya tarik yang nggak lazim. Setiap pergerakan dari Limunas seolah-olah berkata, “Mau hura-hura? Yeuh! Jiga kieu atuh brad!”. Adios, Limunas X. Sampai jumpa lagi di acara hepi-hepi yang lain!

Foto: Fadli Mulyadi

si sehat dan lincah