La La Land (2017): Untuk Kamu yang Memiliki Mimpi

Indeks Prestasi Keren: 8,5/10

Dulu di benak saya yang sering menyanyi sambil menari mah cuma ada di film India. Heran dong saya, setiap momen haru atau senang pasti mereka menyanyi dan menari, bari huhujanan tea ningan, uyuhan nggak sakit. Pokoknya dari situ saya menyimpulkan kalau aktris dan aktor Bollywood fisiknya kuat. Eh, itu mah saya aja sotoy. Tapi, sayangnya saya nggak bakal bahas film Bollywood, karena jatahnya mengulas film La La Land. Hahaha, so betul begini.

Tapi, ya, namanya juga film musikal, pasti akan ada dancing and singing dong? Nah, termasuk di film La La Land ini. Jadi, film La La Land ini bercerita tentang Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling), yang di mana keduanya ini adalah sosok ‘pemimpi’ yang tetap gigih dengan segala kemauannya. Ceritanya Mia adalah seorang perempuan yang bercita-cita tinggi untuk menjadi aktris yang kerap berpapasan dengan Sebastian (Ryan Gosling), musisi jazz yang bercita-cita untuk mendirikan klub jazz-nya sendiri.

Tapi,  ya, gitu, kadang mimpi hanya sebatas mimpi, seringkali mencoba audisi dan sesering itu juga Mia mendapat penolakan, begitu juga dengan Sebastian yang harus terpaksa berulangkali menurunkan egonya untuk memainkan musik yang dia nggak mau,  padahal mah… nya kitu. Pertemuan keduanya boleh dibilang nggak sengaja, selepas keduanya terlibat konflik (nggak sengaja) di jalanan, keduanya kembali berjumpa di salah satu restoran/night club gara-gara Mia mendengar alunan jazz yang manis. Mantap betul memang pendengaran Mia. Lalu, selepas itu terjadilah perjumpaan-perjumpaan selanjutnya, ada yang nggak sengaja, sedangkan sisanya adalah perjumpaan yang sudah diatur dan dibikin enak.

Menariknya, setiap Mia atau Sebastian berfantasi, tiba-tiba spotlight langsung tertuju ke mereka, dan mereka ‘meliar’ dengan cara yang biasa kamu rasakan. Misal, kamu lagi momotoran terus dengerin musik yang kamu banget, seolah-olah kamu lagi ada di adegan film, padahal mah lagi kena macet di depan Borma Cikutra.

Kalau dari segi plot cerita, buat saya yang jarang mantengin drama musikal, sih, plotnya cukup menarik. Meskipun kata temen-temen saya yang demen nonton drama musikal, “katanya”, sih, biasa. Tapi, ada twist yang menarik di akhir. Berkat La La Land juga, banyak temen saya yang tiba-tiba semangat lagi mengejar apa yang dia mau, tapi nggak sedikit juga jadi ada yang keranjingan musik jazz klasik dan tiba-tiba enerjik karena jadi sok dance tea.

Mungkin, relate adalah kuncinya. Karena, ya, kalau kita bicara soal paduan antara passion dengan mimpi, pastilah menarik. Akan cukup relate dengan warga kreatif yang nggak kesampean masuk jurusan kuliah yang diinginkan atau harus terpaksa berada di luar zona nyaman demi secercah ena‘-ena‘ di masa yang akan datang. Dengan jalan cerita menarik yang ‘happy ending‘, bubuhan romansa yang pas, suguhan musik yang digarap dengan baik, dan hadirnya koreografi yang mendukung, akhirnya mebuat film ini semakin pas di hati.

si sehat dan lincah