Konser Efek Rumah Kaca: “Pasar Bisa Dikonserkan”, Konser Rasa Karaoke

Beberapa hari yang lalu ada dua album dari sebuah band yang selalu saya dengarkan di playlist. Yang pertama adalah album Efek Rumah Kaca (2007), yang kedua adalah album Kamar Gelap (2008). Udah bisa nebak, lah, kenapa saya denger kedua album itu terus-terusan. Ya! Karena saya mau nonton konser tunggal dari Efek Rumah Kaca yang bertajuk Pasar Bisa Dikonserkan, jadi biar bisa sing along selama konser gitu dan supaya nggak disangka fans karbitan. Hehe.

Konser yang diadakan pada Jumat (18/9) yang lalu itu, bertempat di Balai Sartika, Bikasoga. Suka jadi nostalgia ai ke tempat itu teh, soalnya dulu acara perpisahan SMA saya diadain di sana. Ah, jadi kangen. Anyway, berdasarkan pantauan saya di Twitter, open gate dari konser Pasar Bisa Dikonserkan ini dilakukan sekitar pukul 6 sore. Tapi jam segitu saya mah masih ngaso aja di kamar, da tempatnya deket rumah. Yaudah saya maghriban dulu, biar berkah nontonnya. Ciegitu.

Sesampainya di venue, antrian yang mau masuk panjang banget. Setelah tetanya sana-sini ternyata antriannya dibagi dua, antara yang pegang tiket biasa sama tiket yang pake barcode. Begitu ditilik-tilik akhirnya saya tau apa yang ngebuat antrian ini jadi panjang, yaitu kurangnya panitia yang stand by di gate buat cek tiket. Tapi yaudahlah, ya, yang penting mah bisa masuk. Sesampainya di dalam, penonton bisa milih buat nonton di bagian balkon atau bawah. Enaknya kalau di balkon itu bisa duduk, kalau di bawah mah, ya, biasa weh berdiri. Dan saya milih buat diem di bagian bawah.

Kesyahduan yang hakiki.
Kesyahduan yang hakiki.

Sekitar jam 8 malam, konser baru benar-benar dimulai setelah ERK masuk ke area panggung yang pendek itu. Ya pendek, panggungnya cuma setinggi pinggang orang dewasa. Band pop minimalis asal Jakarta itu langsung membawakan lagu Tubuhmu Membiru.. Tragis dan Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa yang diiringi sama sing along penonton di seantero venue. Merinding? Pasti.

Pada malam itu ERK membagi penampilannya menjadi beberapa set. Di set pertama, pertama kalinya Adrian sang bassist yang sakit muncul di panggung dengan kursi roda lalu ngasih sedikit speech dan akhirnya berduet membawakan lagu Hilang dan Biru. Di set yang kedua, ERK berkolaborasi sama bejibun artis yang emang udah dikabarkan dari jauh-jauh hari. Mereka yang berkolaborasi malam itu adalah Bin Idris, Tetangga Pak Gesang, Mondo Gascaro, Meng Float dan The Adams.

The Adams idolaku.
The Adams idolaku.

Duet ERK dengan The Adams merupakan salah satu yang menjadi sorotan pada malam itu. Membawakan Lagu Cinta Melulu, pada tengah lagu Ale The Adams memberhentikan permainannya. “Nggak asik, nih, kalo featuring tapi sama kayak lagu biasa”, kata Ale. Lalu terjadilah percakapan antara The Adams dan Cholil yang sayangnya saya nggak ngerti sama yang mereka omongin. Nggak kedengeran soalnya. “Ngomong apaan, sih?”, ucap mba-mba belakang saya ke temennya. Saya ngerti perasaanmu, kok mba, sini peluk. Eh. Lagu kemudian dilanjut dengan aransemen ala The Adams, dan ditutup sama secuil bagian dari lagu Konservatif punyanya The Adams. Terbaik.

Akhirnya, sampailah di set yang terakhir, para personil ERK tetiba berubah jadi Ronald McDonald. Itu, lho, maskot dari salah satu waralaba makanan kesukaan banyak umat. Panggung mendadak jadi penuh banget, soalnya pada set terakhirnya ini ERK berkolaborasi sama String Mini Orchestra. Lagu-lagu seperti Melankolia, Efek Rumah Kaca, Balerina, Laki-laki Pemalu dan Di Udara pun disulap menjadi lebih megah dan manis dalam waktu bersamaan.

Merinding boksuh!
Merinding boksuh!

Konser Pasar Bisa Dikonserkan ini mencapai klimaksnya pada penampilan ERK yang berduet dengan Adrian di lagu Sebelah Mata. Lagu itu terasa emosional banget dengan kehadiran Adrian yang memaksakan diri buat berdiri. Mungkin karena memang lagu tersebut ditujukan buat Adrian. Senandung dari Adrian terasa begitu menyayat hati. Edan.

Acara pun berakhir sekitar jam 11 malam. Jujur saya kecewa sama sound-nya, selama konser ini vokal Cholil nggak terdengar begitu jelas, bahkan pas ngomong biasa. Jokes-jokes yang dilempar para penampil banyak yang miss, atuh da gimana mau ketawa, kedengeran aja nggak. Tapi kerennya mah di semua lagu yang dibawakan, nggak satu pun sepi dari sing along penonton. Ya, bisa dibilang ini konser rasa karaoke. ERK sukses bikin suara saya habis. Manteup.

Seandainya sound pada malam itu bagus, saya yakin ini bakalan jadi salah satu konser yang nggak akan pernah dilupain sama para penontonnya. Pokoknya mah sukses terus sama ERK, ditunggu pisan album ketiganya, Sinestesia. Selalu percaya kalau Pacar Bisa Diciptakan!

Foto: Farhan D. Juanda

Neng, ayo neng. Ayo main pacar-pacaran.