Ketika Tembakau Menjadi Dilematika di Negeri Perokok

Kali ini saya selaku mahasiswa akhir zaman ingin mengungkapkan kegelisahan pribadi yang sudah lama terpendam. Mungkin warga kreatif bisa membantu beropini, apa yang harus dilakukan? Semacam curhat, tapi bukan tentang pasangan yang kebetulan sedang hype di kalangan kawula muda Kota Bandung. Kok bisa? Iya lah, warga kreatif udah dapet berapa undangan nikah dari temen-temen seangkatan? Atau mungkin dari adik angkatannya gitu? Hahaha.

Penasaran nggak apa yang mau dibahas kali ini? Kalau nggak penasaran mah ya udah, terusin baca, hehe. Maksudnya tuh terusin baca news lainnya di ROI yak! Di bulan Mei ini merupakan bulan yang padat dengan agenda nasional bahkan internasional sekalipun. Karena di bulan ini banyak sekali tanggal-tanggal untuk memperingati sebuah tragedi atau bisa dibilang sebuah revolusi. Iya nggak, sih, revolusi? Terlalu keren ah katanya. Hahaha.

Setiap tanggal 1 Mei kita memperingati Hari Buruh Sedunia yang kemudian pada beberapa waktu yang lalu, pemerintah menetapkannya sebagai hari libur nasional. Terus tanggal 2 Mei nya ada Hari Pendidikan Nasional, lanjut ke tanggal 3 Mei nya ada Hari Kebebasan Pers Dunia. Loba siah euy acarana, urang kudu sebutkeun hiji-hiji ulah? Cape ngetikna, sakieu wae capehuhu. Oke lanjut aja ya, kita loncat lansung ke tanggal terakhir di bulan Mei, yaitu tanggal 31 Mei.

Nah, ditanggal ini tuh nggak kalah ramenya kalau sedang diperingati. Karena ini menyangkut dengan kemaslahatan banyak umat, khususnya di negeriku tercintah Indonesia. Tanggal 31 Mei itu adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia! Judulnya aja pake “tanpa” berarti dalam 1 hari itu kita (perokok aktif) harus bisa menahan nafsu untuk ngenyot batang rokok. Terdengar mudah nggak, sih? Berhenti ngerokok doang selama sehari, padahal mah ya warga kreatif, heseeee. Beres makan pasti langsung nyetel rokok, lagi nongkrong santai sama barudak pasti ngerokok, dan maaf-maaf neh, pas mau berak pun pasti ditemenin rokok. Nah, yang terakhir ini sedikit gagal paham sampai sekarang. Apa kaitannya berak dengan harus merokok? Mungkin biar wc nya nggak bau peujit ya. Hahahaha.

Warga kreatif akui saja, pasti di keluarganya ada 1 orang yang merokok. Insya Allah, dipastikan itu mah. Hal yang kaya gini, nih, yang bikin galau pemerintah. Kalau produksi rokok di pabrik-pabrik dibatasi, secara otomatis demand pabrik kepada petani tembakau berkurang dong. Kalau gitu pemasukkan para petani dan buruh tani juga berkurang. Mari akui lagi bersama-sama kalau pendapatan negara kita dari cukai tembakau yang dirakit menjadi batang-batang rokok itu cukup besar lho.

Akhir tahun 2016 kemarin santer berita dipelosok negeri kalau harga rokok bakal meningkat signifikan. Katakanlah harga sebungkus Mpurna Mil (isi 16 batang) Rp. 16.000, harganya bisa melonjak sampai minimal Rp. 50.000/ bungkus. Warbiasa kan? Niat dari pemerintah ditanggapi pro-kontra oleh masyarakat. Ada yang mendukung karena beberapa dari mereka memang perokok pasif yang kebanyakan terkena imbas (asap rokok) dari perokok aktif. Kemudian ada juga yang mendukung wacana itu karena mereka nggak mau generasi penerus bangsa ini kecanduan hal-hal seperti itu.

Tapi, nggak sedikit juga yang kontra lho, baik itu dari kalangan masyarakat dan elit sekalipun. Beberapa di antara mereka mengatakan kebingungan untuk mencari alternatif pengganti batang-barang rokok yang setiap hari mereka kenyot. So addict. Suara paling lantang dikeluarkan oleh para petani tembakau dan industri rokok itu sendiri. Bagaimana nggak sampai bersuara, industri rokok di negeri ini terbilang besar. Industri rokok sudah memberikan pekerjaan bagi 6.1 juta orang! Di zaman yang sekarang para fresh graduated kesulitan mencari pekerjaan, industri rokok bisa mempekerjakan begitu banyak orang.

Bingung juga, sih, suatu hal di dunia yang notabene itu ciptaan Tuhan, dilarang dipake sama umatnya sendiri. Ya terkecuali hal tersebut emang udah dilarang sama Tuhan. Gini, lho, nggak ada yang sia-sia di dunia ini tuh, edyan. Adanya tuh si a si b, waduduh bercanda.

Hal yang sering saya pikirkan kalau lagi momotoran adalah apa yakin pemerintah ingin tetap melanjutkan rencana-rencananya? Ya walaupun dengan cara yang bertahap. Nggak se-ekstrim apa yang diberitakan pada beberapa waktu lalu. Kalau begitu, pemerintah harus menyiapkan solusi bagi para petani tembakau dan kaum elit pemilik industri rokok tersebut. Bagi para petani, apa yang harus mereka tanam untuk tetap melangsungkan hidup dari hari demi hari. Terlebih, petani tembakau di Indonesia ini merupakan petani generasi kesekian dari keluarganya. Wah, lieur oge gening mikiran nagara teh.

Untuk kaum elit, mereka pasti menghalalkan berbagai cara untuk menggagalkan atau mungkin memberikan solusi lain bagi pemerintah agar mereka nggak sampai merugi besar. Pahit-pahitnya mah gulung tikar, tapi da asa teu possible. Bea cukai naik, imbasnya ke harga rokok bungkusan juga naik. Ya udah jelas lah, harga ketengan mah naik juga. Eh, tapi ada bahan nggak ada harga ketengan, para pedagang juga bakal bingung, sih, mau menetapkan tarif rokoknya. Apa pemerintah siap menerima kemungkinan terburuk kalau industri-industri rokok mengalami kemunduran? Pendapatan negara juga bakal berkurang banyak lho!

Buat warga kreatif yang belum tau, bea cukai dari rokok itu geduwe buanget! Termasuk ke salah satu bea cukai yang jadi andalan pemerintah Indonesia. Ah, da mau gimana lagi atuh ya warga kreatif. Kita tuh memang dituntut menjadi generasi konsumtif, tapi kalau konsumtifnya ke yang begitu kumaha? Sekarang aja kalau lagi manggung, pasti ada aja personil yang sambil nyetel rokok. Ya, kecuali manggungnya di acara televisi nasional, ya kali sob.

Sebenernya ada lagi nggak, sih, kegunaan dari tembakau selain dijadikan salah satu bahan dari sekian banyaknya bahan untuk membuat rokok? Jejejelas! Ada dong kegunaan lain dari tembakau. Masih kurang jelas dari penggunaan tembakau selain untuk rokok? Ternyata masih banyak pemanfaatan lainnya. Namun sayang beribu sayang, masyarakat kita udah ter-mind set kalau tembakau itu bahan untuk rokok, dan berbahaya bagi kesehatan. Bukti-bukti di atas mudah-mudahan cukup untuk dijadikan bahan diskusi warga kreatif dengan rekan-rekan sejawat yang lain. Hehe.

Ya saya mah sebagai butiran nasi dari sekitar 250 juta warga Indonesia, cuma bisa berharap yang terbaik buat semuanya. Omat yang terbaik itu nggak selalu win-win solution­, da pasti ada aja yang merasa dirugikan. Selamat bersenang-senang semuanya, asal jangan berlebihan. Persoalan mau merokok atau nggak mah segimana kamu aja weh ya. Asal ulah nyoceng korek batur.

 

Sebats dulu ah,

 

Mahasiswa harapan orang tua dan calon mertua

Virdy A. Delaellyrosa

Pemuda harapan orang tua dan calon mertua