Kesenangan dari Hujan di “SoundsAtions: Demam (Re)Kreasi”

Bandung lagi dingin-dinginnya, nih, warga kreatif. Jangan lupa bawa jaket kalo berpergian. Bisi masuk angin. Kan repot kalo masuknya sambil duduk. Tapi, cuaca dingin-dingin gini teh jadi bingung kalau mau dateng ke acara musik yang ber-venue outdoor. Jadi suka hese nyari sepatu yang cocok buat perginya. Laledok tea.

Tapi buat hari Minggu (29/10) kemarin, di gelaran SoundsAtions: Demam (Re)Kreasi, kayanya udah nggak mikirin lagi mau kaya gimana. Acara yang tiketnya di bandrol dengan sangat murah dan penampilnya sagala aya bikin para penontonnya nggak kecewa walaupun harus basah-basahan dan jeblog.

Sore harinya, saya dateng tepat setelah Elephant Kind turun panggung. Karena antrean di luar yang lumayan panjang dan waktu opening yang terbilang singkat, alhasil banyak penonton lainnya juga nggak kebagian mereka beraksi. Yang penting Bam Mastro pake celana gemes andalannya. Udah itu aja. Setelah mereka turun panggung, giliran Kelompok Penerbang Roket yang menghangatkan suasana. Dibuka dengan “Target Operasi”, KPR selalu bikin penontonnya menggila, ya, seenggaknya ngangguk-ngangguk kepala, lah. Tembang-tembang pilihannya pun di geber tanpa ampun. “Beringin Tua”, “Anjing Jalanan”, “HAAI”, “Hujan Badai” yang di lantunkan untuk  mengenang Om Benny Panjaitan dan di medley langsung dengan “Mr.Bloon” jadi nomor-nomor KPR yang bikin penontonnya makin beringas. Ditutup dengan “Dimana Merdeka” dan “Mati Muda”. Aduhai. Yang becek-becekan, ada. Yang moshing, ada. Yang becek-becekan di depan, terus ke senggol yang moshing malah marah juga ada~

Setelah KPR turun, kini waktunya buat santai-santai sejenak, ngahuleng tarik sambil nontonin Mustache and Beard yang udah mulai jajal panggung. Lantunan merdu mas Afif sambil di temenin hujan rintik-rintik menuju Maghrib yang pokoknya udah suasana anak indie banget, lah. Apa? Indie? Hehe. Nomor-nomor dari album Manusiaku-Manusiamu-ManusiaNya pun di hajar habis karena waktu sudah mepet sama adzan Maghrib.  “Melawan Senja”, “Hujan Kemarau”, “Tanda Kutip” jadi punggawa syahdu ala mereka sore itu, dan “Senyum Membawa Pesan” yang harus ke potong karena adzan udah berkumandang. Untungnya penonton nggak di buat kecewa, karena “Senyum Membawa Pesan” dan “Sang Penawar” akhirnya bisa di mainkan lagi selepas break Maghrib. Hamdallah. Biar barokah, ya, nggak.

Karena dingin menyengat dan nyeureud, ternyata perut udah bener-bener nggak bisa kompromi lagi alias harus mengisi asupan buat nonton yang asik-asik lagi. Akhirnya saya memutuskan buat beli Om Bread alias roti gulung khas India yang saik banget. Jadi, di venue itu udah di sediakan berbagai macam makanan dan stan spesial dari Green Sands untuk memenuhi nafsu pangan kita. Teu hariwang, bos, selow. Lanjut ke panggung sudah siap nama Protocol Afro yang banyak bikin penasaran orang Bandung. Karena kabarnya mereka baru beberapa kali (atau pertama kali, saya lupa) main di Bandung. Dengan gaya indie rock ala tahun ‘90 akhir, Protocol Afro mencuri perhatian dengan stage act dari vokalis mereka yang tiba-tiba loncat ke pit yang sedang sepi dan penuh dengan leutak. Untungnya, dia mendapat tepuk tangan yang meriah dari penonton. Total, salut! Tapi, sangat di sayangkan, kordinasi yang kurang baik seperti waktu Mustache and Beard main harus terjadi lagi. Penampilan mereka harus di potong oleh adzan Isya.

Ada yang menarik lagi, nih. Selepas Protocol Afro main, ternyata hujan kurang bisa bersahabat sama  keadaan. Untungnya, panitia berinisiatif untuk “membeli” dan memberikan jas hujan plastik secara cuma-cuma alias gratis ke para penonton. Ih, meni repot-repot. Suasana kuning, hijau, dan biru pun memenuhi lapangan Arcamanik Driving Range malem itu. Ya, mirip Pitchfork, lah, dikit.

Scaller, si kesayangan para fans yang notabane nya fans dari Barasuara juga, akhirnya naik panggung setelah sekian lama bersiap-siap dan hampir lebih lama dari semua penampil yang ada. Tapi, momen menunggu seluruh penonton yang hadir malem itu emang nggak sia-sia. Scaller tampil layaknya band yang sudah 15 tahun di skena musik ini. Memang terkenal, kualitas mereka nggak bisa di hiraukan begitu aja. Nomor-nomor dari album mereka Senses, di hajar habis tanpa ampun. “Flair”, “Upheaval”, “Move in Silence”, dan lagu-lagu mereka lainnya menjadi jagoan malam itu, dan tentunya di tutup dengan “The Youth” oleh trio yang sebenarnya duo itu.

Scaller setelah adzan Isya.

Punggawa-punggawa tampan asal Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun sudah siap di atas panggung untuk mengguncang. Post-rock kebanggaan Kota Kembang ini memang nggak pernah mengecewakan. Walaupun beberapa kali saya menonton mereka akhir-akhir ini set penampilannya selalu hampir sama, tetapi energi yang di transfer-nya selalu berhasil bikin kita lagi dan lagi untuk pantengin panggung-panggung mereka. “In Hope I Die”, “Bright Light”, dan lain-lainnya sampai di tutup dengan manis dengan “Threshold”. Biasa we, saya mah nungguan pas ngajorowok “oy!”.

Selanjutnya, karena tim gondrong berjaket jeans lusuh dan memakai converse idaman sudah memadati pit walaupun ledok, otomatis, kita semua langsung bisa tahu mereka adalah jama’ah The Sigit juga Sigmun yang sejak awal udah sangat di menunggu-nunggu penampilannya. Bukan karena The Sigit bakal promosi Green Sands, atau Sigmun yang makan Om Bread (apa sih, garing), tapi karena barudak setongkrongan ini bakal berkolaborasi. Uh, waw.

Dibuka manis dengan Detourn oleh The Sigit sendiri, suasana tiba-tiba jadi enakeun karena layaknya karaoke di Inul Vista. “Tired Eyes”, “Gate of 15th”, “Conundrum”, “Son of Sam”, “Let The Right One In” sampai tembang lawas “Allright” di hajar habis oleh Absar Lebeh dan kawan-kawan. Eh, maaf, Rekti maksudnya. Sampai Sigmun di panggil  untuk pasedek-sedek di atas panggung, “Horse” yang di aransemen ulang jadi lebih santai dan mengundang goyang. “Vultures” dari Sigmun dan penampilan mereka di tutup dengan manis oleh “Black Amplifier”. Kali ini suasana lebih seperti NAV.

Kemanisan acara ini di tutup oleh  Diskopantera yang membuka ajojing dengan “Manuk Dadali” dan tembang-tembang berbau hits kejadulan lainnya. Semua yang sudah kagok ledok ikut bersenang-senang. Panitia ikut juga berdansa, melepas kelelahan karena yang saya pikir acara ini lumayan sukses menjadikan acara skala besar yang murah tapi berkualitas dan penuh antisipasi, walau di beberapa titik masih harus di benahi. Salut dan sampai bertemu di Rekreasi selanjutnya!

Oh tiada tandingannya. Aku yang paling berkuasa. Semua orang tunduk padaku! Akulah, Kertarajasa~