Kejutan di SoundsAtions: “Experience What’s Next”

Lepas libur lebaran, kota-kota besar di Indonesia udah mulai bergerak lagi, nih, buat menghangatkan weekend kamu. Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan kota-kota yang lainnya udah muai bergerak “pemanasan” buat bikin acara-acara. Mulai dari cangkupan yang kecil yang biasa disebut microgig juga acara yang lingkupnya sebesar tekadmu. Apa~

Minggu ke-2 di bulan Juli ini, saya udah mengumpulkan niat buat pergi ke salah satu acara di Bandung, tepatnya di tempat yang paling “anak gaul”, ya, apalagi kalo bukan The Parlor. Alhasil, malam Sabtu (21/7) kemarin, saya dateng ke acara SoundsAtions: Experience What’s Next.

Tepat jam 6 sore, saya udah tiba di TKP. Seperti biasa, momen ini dijadikan sebagai THR-nya tukang parkir dan warga sekitar Rancakendal. Tapi satu yang saya suka dari The Parlor, adalah letaknya yang lumayan jauh dari jalan raya. Jadi, sebanyak apapun motor dan mobil yang bakal dateng, nggak terlalu mengganggu kenyamanan Cikutra, Pahlawan, Cigadung dan sekitarnya. Bisa, lah, dicontoh buat temen-temen yang mau bikin creative space.

Di waktu saya datang, The Parlor sudah dipadatkan dengan teman-teman bergaya hard rock yang tetap saja menjadi layu jika sudah tersebut nama Danilla. Mereka tetap ekspresif memang. Antrean menuju venue dibuat memutar. Ini bagus, karena jadi nggak terlalu panjang. Biasanya mah, jadi mual duluan kalau liat antrean panjang teh. Nggak lama setelah saya dapet tempat duduk yang enak (tapi heurin), Oscar Lolang menyambut dengan tampan rupawan. Penampilannya dibuka dengan “Little Sunny Girl“, lalu Bung Oscar langsung mencuri perhatian banyak penonton yang tadinya malah banyak merhatiin ke SPG. Dihajar penuh dengan lagu-lagu semelehoy yang bikin syahdu kayak: “Travel’n“, “Song For Bandung“, dan “Bila“. Oscar juga ngajak temen-temennya dari Lizzie, Sarasvati, dan Sky Sucahyo buat lagu terakhir yang dia bawain; “Eastern Man“.

Selepas Oscar Lolang, Munthe Boyd jadi nomor selanjutnya yang menghangatkan suasana. Walaupun (untuk yang tahu) perform-nya malem itu adalah penampilan pertamanya setelah dia sempat sakit beberapa waktu lalu, tapi, penampilannya bisa dibilang cukup endeus. Dibuka dengan nomor berjudul “Ugly” dan “The Sun Has Sunset”, Munthe berhasil mengobati rasa rindu para fans-nya yang udah lama nunggu-nunggu penampilannya. “Rise Up” dan “Life Is Beautiful” jadi track selanjutnya yang dia bawakan, sekaligus jadi salam perkenalan lagu-lagu barunya. Asik euy, album keleus~. Penampilannua malam itu ditutup dengan aduhay lewat lagu kojo kami, “Pure”.

Venue mulai dipadati akang-akang. Sampai kalau nggak salah, tempatnya overload. Awas, lain Overwatch. PS 4 kali, ah. Nggak heran, sih, karena sehabis Munthe, ada mbak-mbak cantik yang katanya selalu jatuh cinta sama romantika kota Bandung. Aw, aku padamu, mbak. Setelah menunggu sekitar 20 menit, Danilla dan kawan-kawannya pun naik ke atas panggung. Kali ini ditemani dengan pemain keyboard calon legend di Indonesia, Om Mondo Gascaro. Waduh, gawat-gawat. “Kalapuna” dan “Terpaut Oleh Waktu” jadi pembuka penampilannya. Mata-mata para lelaki yang keliatannya belum lulus atau emang susah lulus dari kampusnya nggak bisa terelakan dari mbak Danilla malam itu. “Senja Diambang Pilu” juga “Dan Bila” jadi nomor berikutnya yang sukses dan syahdu buat sing a long. Lalu ditutup dengan “Semesta” dari Alm. Chrisye yang diaransemen ulang oleh Om Mondo dan kawan-kawannya. Meleleh. Kayak keju hits yang itu tea.

Setelah Danilla, Mondo dan kawan-kawan turun dari panggung, disiapkanlah set berikutnya untuk Efek Rumah Kaca. Seperti biasa, sambil diselingi kuis-kuis kecil dari MC yang berusaha direspon penonton. Nice try tapi, mbak. Yang anehnya, ada gitar Fender Telecaster yang biasa dipakai si vokalis yang lagi jauh disana. Dari awal masuk udah sedikit curiga kalau itu gitar Cholil. Tapi, kita berspekulasi kalau itu dimainin sama Dito (additional ERK), biar kalau jatuh nggak terlalu kecewa. Hehe. Tapi beberapa menit kemudian, Dito juga bawa gitar yang sering dia pakai. Dan ternyata…… Meledak rasanya semua penonton yang hadir waktu liat Cholil bener-bener ada. “Putih” juga “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa” jadi track pembuka di formasi panggung ERK. Cholil bilang kangen sama suasana manggung. Karena memang iya, atmosfer tempat yang nggak terlalu besar kaya The Parlor ini selalu bisa bikin merinding kalau diinget-inget lagi. Lagu kemerdekaan mereka “Biru”-pun jadi nomor selanjutnya. Momen-momen sing a long yang pasti dirindukan saat ERK manggung.  “Hujan Jangan Marah” dan “Cinta Melulu” dihajar habis sampai lupa kalau keringet teh bisa jadi daki. Terakhir “Di Udara” dan “Sebelah Mata” jadi track penutup perjumpaan pertama ERK bersama Cholil lagi setelah banyak yang iri melihat mereka terakhir di Bali.

Selepasnya, banyak yang masih tersenyum sendiri karena nggak percaya dan merasa beruntung bisa nonton Efek Rumah Kaca dengan formasi itu, dan juga penampil-penampil lain. Jadi nggak sabar buat dateng ke event di Bandung selanjutnya. Yuk!

Foto: Farhan Dzulfiqar Juanda dan dok. The Parlor

Oh tiada tandingannya. Aku yang paling berkuasa. Semua orang tunduk padaku! Akulah, Kertarajasa~