Istirahatlah Kata-Kata (2017): Tentang Widji Thukul, dan Perspektif Kita yang Terbuka

Indeks Prestasi Keren (IPK): 7,6/10

Sebutkan senjata paling mematikan di dunia! Bukan pistol, celurit, gergaji, ataupun pisau dapur. Jawaban yang benar adalah… kata-kata. Seperti “Sori, kita temenan aja.” ADUUUUUUUUH MEMBUNUH!!!

Kekuatan kata-kata juga banyak digunakan oleh sastrawan Indonesia untuk membunuh rezim Orde Baru. Salah satunya sastrawan sekaligus aktivis pro-demokrasi, Widji Thukul, yang kisahnya diangkat oleh sutradara Yosep Anggi Noen dalam film Istirahatlah Kata-kata. Film berdurasi 95 menit ini menceritakan secara permukaan kisah pelarian seorang Widji Thukul (Gunawan Maryanto) ke berbagai kota di Indonesia. Dalam pelariannya ia bertemu dengan berbagai orang yang juga lari dari sergapan Kopassus Mawar. Sementara itu di Solo, rumah Widji diobrak-abrik dan buku-bukunya disita, sementara keluarganya berada di bawah intaian intelijen.

Dibalut dengan bait-bait puisi sebagai deskripsi adegan, film minim percakapan ini menyajikan emosi mendayu bagi penontonnya. Bagian paling menarik menurutku adalah sinematografi dan warna dari film ini yang membuat sangat sendu dan mencekam. Meski secara garis cerita nggak mendeskripsikan secara jelas perjalanan Widji Thukul, tapi sangat edukatif dan membuka perspektif terhadap sulitnya proses demokratisasi di Indonesia. Terlebih banyak orang yang tutup mulut, tutup mata, dan pura-pura lupa terhadap kejadian demokratisasi, sehingga seolah kejadian tersebut nggak terjadi.

Memang sejak beberapa tahun ini, banyak seniman yang menyuarakan aksi “Menolak Lupa” untuk menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa masih ada banyak aktivis, sastrawan, dan tokoh masyarakat pro-demokrasi yang masih hilang entah di mana. Lewat film ini generasi X ingin menyampaikan pada milenial untuk nggak pernah lupa terhadap proses demokratisasi negara kita. Edan, politis pisan euy, beurat!

Istirahatlah Kata-Kata yang premier tanggal 19 Januari kemarin mendapatkan animo luar biasa dari masyarakat sehingga waktu tayangnya diperpanjang. Nah, buat kalian yang belum nonton, bisa cek di bioskop yang bekerja sama untuk memahami sejarah Indonesia lewat perspektif yang berbeda. Boleh kaleee~