“Introduksi”, Ajang Berkenalan yang (Sedikit) Berisi

Kalau membahas perkembangan si musik teh, nggak afdol kalau cuma membahas soal genre atau dari sisi penampilan band tertentu saja, kayaknya. Tentu masih ada lagi hal lain yang bisa didiskusikan, salah satunya adalah si label rekaman.

Beruntunglah hari Rabu (23/11) yang lalu, Spasial mengajak Nanaba Records dan Kolibri Rekords untuk kembali menggelar program diskusi bertajuk Introduksi. Eits, kalem, ini bukan diskusi serius-serius kok, seperti arti dari si Introduksi itu sendiri, kegiatan diskusi kemarin, selain sifatnya ‘kenalan’, dua label rekaman dari Ibu Kota ini juga ikut berbagi soal keluh kesah dalam mengolah sebuah rilisan dan alasan kenapa akhirnya terbentuk sebuah label rekaman itu sendiri. Aih, sedap.

Di sesi awal, Jodi dari Nanaba Records sedikit bercerita tentang hobinya mengoleksi rilisan kaset, lalu berawal dari si hobi itulah tercetus keinginan untuk membentuk sebuah label rekaman. Dari yang awalnya hanya merilis kaset band Jodi sendiri, kini Nanaba Records sudah semakin berkembang, dan puncaknya adalah di tahun 2015 lalu. “Tahun 2015 itu bisa dibilang nggak masuk akal, sih, kita bisa sampai ngeluarin 24 rilisan. Puji Tuhan ada kesempatan dan kemampuan buat ngerilis sebanyak itu,” tambah Jodi. Mantap gitu euy, meskipun semua dengan etos D.I.Y, tapi tetap bisa produktif. Salah satu yang saya inget dari Nanaba Records ini adalah rilisan kaset limited dan video single dari Marsh Kids, salah satu band yang jarang terlihat wujudnya, tapi ada rilisannya. Bener-bener mejik.

img_05181

Selain berbagi cerita di balik perilisan single atau album sebuah band, Jodi juga sedikit menambahkan, “Beberapa band harus kita hargai keinginannya untuk merilis dalam jumlah terbatas, tapi untuk nama tertentu, ya, nggak bisa terbatas, sih. Apalagi rilisan semacam Danilla, nggak bisa tuh cuma dirilis 30 kaset, kalau gitu bisa ‘dihabisin’ deh nanti”.

Selanjutnya, Ratta dan Daffa dari Kolibri Rekords mengisi sesi kedua. Nggak cuma ngebahas soal label rekaman, keduanya juga banyak menjelaskan khas Kolibri Rekords yang lebih bermain pada sentuhan visual di setiap rilisannya. Coba geura, perhatiin CD Badchamber, ATSEA, Gizpel, sampai Low Pink, visualnya menarik semua, kan? Visualnya seperti yang sering Daffa bilang saat presentasi, “…oke banget”.

“Kenapa namanya Kolibri? Ya, karena burung kolibri itu adalah burung kecil yang punya kelebihan lain dibanding burung-burung besar lainnya. Hahaha, apa, ya? Sesimpel itu, sih, mungkin,” ujar Daffa, saat ditanya alasan kenapa memilih nama manuk kolibri. Mungkin, nama itu berimbas pada adanya khas dan karakter visual dari setiap rilisannya. Selain urusan visual yang cakep, label rekaman yang tercetus dari sebuah candaan ini, juga menerapkan lisensi Creative Commons di setiap rilisannya. Jadi, lebih memudahkan pemilik rilisan itu untuk saling berbagi, asalkan teu diduitkeun alias nggak untuk kegiatan komersil. Dengan adanya lisensi itu, juga bisa sedikit mematikan si kolektor-kolektor kurang santun yang berkeliaran saat ini. Menariknya, selain ada lisensi Cc, hampir semua rilisan dari Kolibri Rekords adalah band baru dan album pertama. Ternyata itu bukan sebuah kebetulan, menurut Daffa “Kalau bisa, sih, siapa pun band baru, yang menurut kita oke banget, rilisan pertamanya harus sama kita. Ya, itung-itung ngebantu band itu juga”. Selain tujuannya yang patut diapresiasi, memang yang pertama teh biasanya suka meninggalkan kesan mendalam. Eh, enya kitu? Sotoy begini saya.

img_2631a

Setelah kedua pihak (hanya) berbincang-bincang soal rilisan, berbagi mengenai teknis di label rekaman, dan juga berbagi cerita soal keseruan tour mereka, kegiatan diskusi malam itu diakhiri dengan sesi foto bersama. Nggak banyak yang saya ingat, hahaha. Tapi, yang saya harapkan, sih, semoga keinginan Daffa dari Kolibri Rekords bisa terwujud, yaitu selain indie-pop bisa terus berkembang, harapan bisa mewujudkan label rekaman yang memiliki semangat kebersamaan alias guyub, semoga bisa terwujud juga. Tentu, semoga Kolibri Rekords dan Nanaba Records juga bisa menjadi label rekaman ‘penentu zaman’, yang nggak cuma merilis, tapi juga meninggalkan kesan. Kumaha nya?

Hahaha, melihat dua label yang serasi ini, saya jadi tiba-tiba inget paman, soalnya suka ngasih makan burung pake pisang. Nggak nyambung ya? Bae.

 

Foto: Alfi Prakoso

si sehat dan lincah