Intan Anggita “@badutromantis”: Substore, Passion dan Idealisme

Samlekum, warga  kreatif! Bagi yang muslim, udah berapa kali ke mesjid hari ini? Subhanallah, Pokemon GO memang mendekatkan kawan-kawan dengan pagar mesjid… alias apaan pokestop nggak bikin kalian ikutan sholat. Mending main Onet aja siah. Oke, sekian opening nggak bermutunya, mari kita lanjut ke bagian berfaedahnya aja. Setelah sekian lama nggak menyetor tulisan, kali ini aku dapet mandat untuk ngisi kolom #Sebagay. Karena sudah dikejar-kejar deadline, ya sudahlah kita manfaatkan koneksi yang dekat alias mengapa nggak mewawancarai bos sendiri. Jenius.

Jikalau warga kreatif pernah denger Substore, sebuah record store sekaligus coffee shop yang berlokasi di Pasar Antik Cikapundung, nah, aku kerja di sana, pada dateng yah. Hehe sombong. Hehe promosi. Maksudnya, salah satu owner-nya adalah Intan Anggita, atau mungkin warga kreatif lebih mengenal doi di media sosial Twitter dengan username @badutromantis. Teh Intan ini terbilang sangat giat dalam menyuarakan berbagai isu, mulai dari musik sampai lingkungan, antara lain penggalangan dana Tesla Manaf Tour dan menujutimur.com. Ditemui di lokasi yang bersangkutan sehabis keriaan Mulyono Jilid VI, akhirnya kami ngobrol-ngobrol santai tapi serius. Yuk simak~

Sebelumnya aku tau Teh Intan dari Twitter @badutromantis dan sering banget bikin-bikin campaign jamanan Lokananta, ramein lagi pasar. Kenapa lewat medsos?

Intan: Karena kalau kita udah tau cara yang paling efektif itu dengan media sosial,  dan kita punya kontennya, asal kita konsisten, bisa bikin sesuatu perubahan. Kalau aku, sih, nggak berniat bikin suatu campaign gitu, emang semuanya itu organik. Biasanya itu karena keterpanggilan dan ketergerakan, misalnya kayak kasus yang terakhir deh, Tesla Manaf Tour, harus ngumpulin uang 100 juta dalam waktu 1 bulan. Nah, hal-hal kayak gitu tuh karena emang punya keinginan untuk membawa musisi Indonesia yang udah keren, jadi aku tuh nggak ada campur tangannya dengan kekerenan mereka. Mereka tuh emang sendirinya keren, aku ingin membantu memperkenalkan lebih luas lagi aja, plus waktu itu kan Substore Tokyo mau buka. Aku tuh paling suka crossing promo, jadi kayak hub untuk orang-orang yang menurut aku keren, komunitas yang keren, atau tempat, yang layak di-exposure, biasanya dari situ. Kenapa aku bisa menjalankan semua yang ada di media sosial seperti sesuatu yang menyenangkan, karena passion aku di musik. Jadi sesimpel kalau ada sesuatu yang menarik aku share. Karena aku konsisten di musik jadi bisa spreading pesan-pesan lebih banyak dan luas lagi.

Sempat disinggung komunitas dan musik, komentar Teh Intan tentang pergerakan komunitas musik yang kecil dan yang sedang naik daun kayak micro-gigs ini?

Intan: Karena passion-nya di musik, aku ingin hal yang kecil itu bisa menjadi langkah agar bisa diimplementasikan di berbagai daerah tidak terbatas Bandung saja. Kebetulan aku ada Substore di mana kita bisa mendukung dan memberi tempat untuk berkembang. Dari yang kecil tadi, kalau konsisten tentu bisa jadi sesuatu yang besar. Substore sendiri menjadi tempat musisi-musisi untuk membuat micro-gigs atau rilis fisik dan promosi. Kami membuka pintu seluas-luasnya karena di era medsos seperti ini kolaborasi adalah hal terbaik.

Tadi juga mulai disebut ada rilisan fisik. Mengenai tren anak muda yang lagi rame koleksi kaset atau PH?

Intan: Kalau aku memang bukan seseorang yang against dengan sesuatu yang lagi nge-trend. Sebelum aku mempengaruhi orang-orang di sekitar tentang piringan hitam atau kaset, trend saat itu berada di musik digital seperti download music dan beli mp3 bajakan. Banyak orang yang tidak merasa perlu untuk membeli rilisan fisik padahal dengan membeli rilisan fisik kita bisa mendapat artwork-nya, bisa mendukung musisinya, serta ada kebanggaan bagi kita untuk mengoleksinya. Ada arsip yang bisa menjadi rekam jejak musisinya. Daripada aku against mereka yang memilih download  atau MP3 bajakan dengan larangan karena mereka tidak punya pilihan dan pengetahuan tentang betapa menyenangkannya mengoleksi rilisan fisik, aku lebih memilih untuk memberi mereka awareness agar orang mulai kembali ke rilisan fisik, memberi dukungan kepada musisi, dan menikmati kualitas musiknya tidak hanya terbatas pada mp3. Daripada kita melarang mereka untuk membajak, lebih baik kita memberi mereka alternatif lain untuk menikmati musik.

Kembali ke Substore, awal kemunculannya ada di Pasar Santa. Kenapa memilih di pasar? Kenapa nggak di mana gitu, di Taman misal, kan lagi rame tuh.

Intan: Pertama, kami punya mimpi tapi kami realistis. Untuk sewa tempat yang lagi happening kami belum ada uang. Jadi di balik keterbatasan, lebih baik kami menjadi sesuatu yang  berbeda tapi mimpi kami tetap terwujud. Mimpiku bisa membuat tempat untuk para musisi dan juga menjual barang-barang yang aku suka. Kalau aku memaksakan ke tempat yang lagi happening  di kalangan anak muda, atau menyewa tempatnya pun perlu pinjam bank, fokusku malah bagaimana cara membayar sewa dan jatuhnya berjualan saja. Aku nggak mau. Substore bukan mencari keuntungan, yang penting bisa menutupi kebutuhan operasional dan keuangannya sehat. Aku ingin kolaborasi dengan partner-partner lokal serta para manajer keren yang mengatur agar Substore hidup. Aku sama Aria itu hanya bertindak sebagai “provokator”, menghidupi satu tempat lalu mencari tempat itu, membangun konsep setelah itu biar orang-orang yang ada di situ yang menjalaninya.

Substore kan punya banyak cabang tuh, aku mau fokus bahas yang di Bandung. Kenapa untuk Substore Bandung milih Pasar Cikapundung? Kenapa nggak, misalnya, di Pasar Andir gituh?

Intan: Sebenarnya, Substore Bandung diawali dari perkumpulan pengajian yang bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan dunia film. Salah satunya Naya dan Jebraw “Jalan-Jalan Men”. Mereka berkolaborasi dengan kami dengan keinginan untuk membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat. Nah, ayah dari Naya ini punya toko di Pasar Cikapundung. Ada 2 toko yang kosong di pasar itu, dan waktu itu belum terjamah anak muda. Sekarang udah mulai tumbuh budaya mencari vinyl ke Pasar Cikapundung walaupun tidak seinstan Santa.  Ada orang-orang yang passionate di bidang masing-masing dan berhubungan dengan vinyl sehingga lebih memilih Pasar Cikapundung karena sudah terbentuk ekosistemnya.

Substore Bandung ini adalah salah satu Substore yang memiliki Coffee Shop. Dan sepengetahuanku Coffee Shop di sini kerasa idealis. Kenapa tuh?

Intan: Kami bertiga dipersatukan oleh pandangan-pandangan ideal menurut kami. Kami sayang binatang, alam, dan lingkungan. Karena kami sayang orang utan, kami tidak memakai kelapa sawit. Kami juga tidak terlalu suka dengan perusahan tebu, jadi kami memilih memakai gula aren. Kami menggunakan sea salts karena garamnya mengkristal dengan alami hasil dari garam laut karena usut punya usut, garam yang biasa itu kadang bukan garam laut melainkan garam buatan. Intinya kami sayang lingkungan, sih.

Jadi, secara nggak langsung, Substore adalah perlawanan kecil atas fenomena-fenomena yang terjadi sekarang ya?

Intan: Iya. Kalau kita bisa memperkenalkan dan memberikan yang terbaik, kenapa nggak? Bahan-bahan kami premium dengan harga yang terjangkau. Kami juga menggunakan beans-beans daerah yang emang enak, kami bekerjasama dengan Jack Runners yang cukup idealis dalam hal roasting.

Kalau respon dari anak-anak Bandung sendiri dengan segala macam campaign baik dari pribadi Teh Intan maupun Substore, seperti apa?

Intan: Respon anak-anak Bandung sejauh ini asik. Hal-hal kecil ternyata mengumpulkan energi baik. Mereka punya pandangan dan pemikiran yang sama membawa mereka bersatu dengan kami. Yang nongkrong di sini biasanya yang pemikirannya sama kayak kami.

Pertanyaan terakhir deh, yang Teh Intan tau tentang ROI! Radio, sama pesan dan kesannya?

Intan: ROI! Radio adalah majalah online atau website  yang bagus, karena semangatnya sama kayak aku dan Substore yaitu hub untuk musisi dan musik-musik bagus. Semoga lebih banyak lagi ROI! Radio di kota-kota lain agar bisa bersinergi dan mempromosikan semangat-semangat baik dari anak-anak musik khususnya yang tidak terekspos oleh media besar. Selama kita masih ada media sosial, nggak ada yang nggak mungkin buat kita untuk menyebarkan semangat baik.


Sip, itu tadi hasil wawancara dengan Teh Intan. Semoga warga kreatif juga punya maksud tersendiri dalam menjalani hidup masing-masing. Toh, niat baik sekecil apa pun dari diri kita bukan nggak mungkin bisa menjadi besar dengan usaha dan kolaborasi positif sana-sini, seperti yang sudah Teh Intan lakukan. Jadi, yuk, ke Substore! Ketemu sama aku.

_____________________________________

Intan Anggita

Twitter: @Badutromantis

E-mail: intanap86@gmail.com

Foto: dok. Intan Anggita

Ruang Alternatif Kamu