Herra Pahlasari: “s14 Bukan Komunitas, Ini Ruang Alternatif”

Dari dulu, aku teh mimpi pengen punya rumah gede kayak di film kartun gitu biar bisa bikin pesta dansa di rumah. Tapi kalau dipikir-pikir, serem juga yak. Tinggalnya cuman sendiri tapi rumahnya segede gaban, bingung mau diapain kalau beneran kejadian. Nah, ini juga yang terjadi di rumah nomor 14 di Jalan Sosiologi, Cigadung. Rumah yang sekarang lebih terkenal dengan nama s14 ini kurang lebih punya cerita yang sama dengan rumah impian aku.

Di sela-sela pameran gegedug hip-hop Bandung, Homicide, aku berkesempatan buat ketemu sama penggagas s14 ini, Herra Pahlasari atau yang bisa di-sok-akrabin jadi Teh Herra. “Ya sebenernya karena rumahnya kegedean aja, sih, buat cuman ditinggalin bertiga. Terus orang kalau dateng ke rumah suka nyelonong masuk aja langsung ke ruang tengah nggak pernah ngumpul di ruang tamu,” jelas Teh Herra. Merasa iba dengan ruang tamu itu, Teh Herra memberikan kesempatan pada ruangan tersebut untuk merasakan kehangatan aktivitas manusia.

Berawal dari keinginan untuk punya galeri kecil-kecilan, terbersit gagasan untuk menjadikan ruangan 3×3 meter tersebut menjadi mini galeri. Ketika pertama didirikan tahun 2008, tujuan awalnya hanya untuk mengisi ruang tamu tersebut dengan karya-karya seniman muda yang kurang lapak pameran sekaligus jadi ajang ketemuan seniman muda dan seniman tua. Maka terciptalah ruang alternatif tersebut.

DSC_0148

Emang, sih, gosip tuh menyebar cepet banget! Teh Herra kewalahan ngurusin berbagai tawaran pameran yang terus dateng tiap bulannya. Ruang alternatif ini jadi “hotspot” untuk seniman muda majangin karyanya. “Sempet kepikiran untuk nutup S14 karena udah mulai sibuk sejak pembukaan perpustakaan di tahun 2012. Setahun kemudian, pas ulang tahun S14 yang ke-lima udah hampir aja tuh mau tutup soalnya keganjel masalah finansial tapi beberapa anak pengurus S14 nggak setuju, jadi ya nggak jadi deh haha.” Sebenernya kehadiran perpustakaan di tahun 2012 cukup membawa warna baru untuk ruangan kecil tersebut. Pasalnya SDM dari beberapa latar belakang mulai masuk dan memberi kesegaran tersendiri pada semangat mempertahankan S14 agar bisa terus menjadi penghubung berbagai kalangan di dunia seni.

s14 sendiri nggak pernah mematok idealisme jenis apa yang bisa dipajang di galeri mininya. Teh Herra membuka kesempatan untuk para seniman memajangkan karya-karya terbaiknya. Selain mamerin, tentu ruang tengah s14 bisa “dibajak” juga jadi tempat untuk membahas karya atau biasa disebut artist talk. Mulai dari fotografi, mixtape, lukisan, postcard, dan karya 3D diterima dengan tangan terbuka. Selain memamerkan seni kegunaan ruangan di rumah ini terus berkembang dan merekah, berbagai diskusi juga kerap dilaksanakan macam diskusi buku dan film, mengingat koleksi buku di perpustakaan s14 itu luar biasa banget.

Dengan idealisme awal untuk mempertemukan kalangan tua dan kalangan muda selayaknya detik-detik kemerdekaan di Rengasdengklok, Teh Herra sebagai Laksamana Maeda menyediakan wadah untuk menampung itu semua. s14 bukalah sebuah komunitas yang buka open recruitment ke generasi lebih muda, bukan juga sebuah sekte pecinta seni rupa kontemporer. s14 menyuarakan semangat art, life dan share sebagaimana yang menjadi tagline dari ruang depan rumah ini.

Ingin main ke sana? Gampang. Main aja. Informasinya aku sertakan di bawah.

________________________________

sawqd

Buka: Selasa-Sabtu, 11.00-17.00

Informasi: sosiologi14@gmail.com | perpustakaans14@gmail.com

Twitter: @sosiologi14

Website: s14artspacelibrary.com