Hari Musik Nasional yang Harus Lebih Dimaknai

Coba kamu buka deh, aplikasi kalender di handphone. Klik di tanggal 9 Maret, pasti nggak ada apa-apa yang muncul. Padahal, untuk tahun 2016 ini, ada dua perayaan penting di negara ini; Hari Raya Nyepi dan Hari Musik Nasional. Belum lagi ada momen gerhana matahari total. HP sekarang mah gini ya. Jelek, nggak lengkap. Bahas ah. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat untuk umat Hindu yang merayakannya, saya lebih tertarik untuk membahas Hari Musik Nasional. Biar bebas hehehe.

Tanggal 9 Maret adalah tanggal kelahiran pencipta lagu Indonesia Raya, W.R. Soepratman (1903). Berterima kasihlah kita pada Pak Beye karena telah membuatkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk Hari Musik Nasional pada 2013 silam, meskipun peringatan ini udah direstui dari zaman Bu Mega. Makna hari penting ini sebetulnya sederhana, untuk menghargai karya-karya musik anak bangsa serta menunjukkan rasa hormat dan rasa memiliki karya musik bangsa sendiri. Tapi kadang, memaknainya itu yang sulit. Sesulit menjaga kriket dari niat biadab sahabat sendiri.

Ya, emang belum beres banget, sih, masalah penghargaan terhadap karya musik musisi kita. Masalah yang paling susah ya, soal pembajakan. Coba inget lagi deh, kapan terakhir mampir ke platform distribusi suara online, lalu muncul “tawaran” dari aplikasi IDM untuk mengunduh materi undownloadable, dan kamu meng-iya-kannya. Padahal materi tersebut cuma sebagai promo biar kita beli rilisan fisik ataupun digitalnya. Dan FSTVLST, band rock asal Jogjakarta, pernah secara detail menjelaskan mengapa mereka begitu mengharapkan kesadaran warga kreatif untuk lebih menghargai sebuah karya musik. Soal isu polisi skena belakangan ini juga – lebih khususnya soal penonton goyang, bukan hal yang amat dipersalahkan juga. Gimana pun, musisi juga pengen ada timbal baliknya atseuh. Merasakan diapresiasi.

Eh tapi, sekarang mah populasi warga yang sebagey musisi udah meningkat ya? Asa banyak banget lahir band baru, muka-muka baru, dengan mengatasnamakan “meramaikan belantika musik”. Padahal mah banyak yang seragam. Hehehe. Jadi melenceng bahasannya. Dengan makin banyaknya anak band, sikap saling menghargai karya sesama musisi juga meningkat, dan (harusnya) permasalahan pembajakan bisa sedikit teratasi. Ah, ini mah sotaunya saya aja.

Intinya, sih, mari kita lebih menghargai musik. Karena banyak banget jasa dari musik bagi hidup kita. Coba, berapa kali musik mampu menyelamatkan mood dari hari sial seperti saat kamu menginjak muntah kucing atau dapet uang kembalian lima puluh ribu tapi sobek? Sering. Seperti ROI! yang mulai mewacanakan untuk menghidupkan kembali program Mendadak Live, sebuah program yang mendokumentasikan band, yang tampil secara live. Doain aja. Biar kami bisa lebih menghargai musisi dan karyanya. Ini kami kasih spoiler gini biar kalian penasaran, sih. Kampring gini.

Eh iya, kalau ada yang bilang “saya nggak merayakan Hari Musik Nasional, karena saya merayakannya setiap hari”, coba bayangin lagi perjuangan dari Persatuan Artis, Pencipta dan Rekaman Musik Indonesia (PAPRI) yang udah berusaha ngusulin peringatan ini secara nasional. Sehari ini mah rayain dulu lah. Selamat Hari Musik Nasional, warga kreatif!

 

Salam hangat,

 

Editor in Chief

Pandu Arjasa

merokok dengan beat the devil’s tattoo dari black rebel motorcycle club.