Glare: Mengekspresikan Emosi Melalui Teriakan

Sekitar sebulan yang lalu, sebuah album kompilasi dari teman-teman scene emo di Indonesia resmi dirilis. Album bertajuk Revolution Autumn #2 itu merupakan bentuk dokumentasi sederhana dari band-band yang memainkan musik post-hardcore, 90’s screamo/skramz, midwest emo, dan turunannya. Ini merupakan album kompilasi kedua setelah edisi sebelumnya dirilis pada tahun 2012 silam, yang juga menandakan kalau scene ini eksis dan terus berkembang di Indonesia.

Total ada 10 band yang berkontribusi dalam kompilasi tersebut yang berasal dari beberapa kota di Indonesia. Dari sekian banyak band, ada sebuah band yang menarik perhatian saya sejak perilisan EP-nya di tahun 2015 yang lalu. Band tersebut adalah Glare. Band beranggotakan Latif (vokal), Akbar (drum), dan Rafi (gitar) ini memainkan musik emoviolence/90’s screamo. Di EP-nya yang berjudul La Dialettica, walau durasi keseluruhannya kurang dari 10 menit, tapi cukup menimbulkan kesan buat saya.

Alhasil karena pengen kepo sama mereka lebih jauh lagi, yaudah saya janjian Sabtu (16/4), di acara A Heart Filled Reaction to Dissatisfaction Vol. 1, sebuah gigs yang merupakan penghujung dari rangkaian tur Gauth, band skramz Bandung, dan Ruth, band skramz Singapura.

Penasaran nggak sama apa aja yang saya obrolin sama trio asal Cimahi ini? Penasaran, dong. Plz. Langsung cekidot aja~

Pertama-tama, perkenalan dulu atuh biar akrab.

Akbar: Saya Akbar, megang drum.

Rafi: Saya Rafi, megang gitar.

Satu lagi?

Akbar: Sama satu lagi Latif, dia vokalis. Lagi ada kerjaaan. Sok sibuk itu mah.

Bisa diceritain gimana sejarah terbentuknya Glare?

Rafi: Pertama-tama jamming-jamming kami berdua, saya dan Akbar. Terus kami teh asa ada yang kurang gitu, nggak ada vokal.

Akbar: Jadi asalnya tuh kami cuma berdua. Saya suka ngajak Rafi buat jamming berdua di studio pas nggak ada kerjaan. Waktu udah kebentuk dan ada konsep, kami teh ngerasa ada yang kurang gitu, terus akhirnya narik Latif buat jadi vokalis, dan jadilah Glare.

Oh, iya iya. Terus, kenapa milih nama Glare?

Akbar: Kalau soal nama…. Tah, ieu aya si Latif-na.

*tetiba Latif datang*

Iya, jadi kalau soal nama, pertamanya saya yang ngusulin. Sebenernya mah nggak ada arti khususnya, sih. Saya terinspirasi dari Stanley Kubrick.

Latif: Anjir, beurat kieu euy. Hahahaha.

Akbar: Bae lah, meh jiga. Hahaha. Jadi gitu, dari film, sih, awalnya mah. Soalnya saya suka sama Stanley Kubrick. Hampir di tiap filmnya, kayak di The Shining, Eyes Wide Shot, pokoknya hampir di tiap filmnya ada satu shot yang difokusin ke mata, dan kalau saya baca-baca, itu disebutnya glare. Nah, dari situ nyanggeus weh ngaranna Glare, da ngaranna ge rada lada kitu. Hahahaha.

Rafi: Ai Uttaran aya euweuh?

Latif & Akbar: Hahahaahahahaha.

Itu teh kan asalnya berdua, udah maenin musik kayak gini?

Akbar: Udah, udah kayak gini.

Rafi: Sebenernya teh saya mau sambil vokal, tapi asa karagok euy. Yaudah weh, kami cabut vokalis Gauth.

Ini teh kan 2 personilnya teh anggota Gauth juga. Nah, nggak bertubrukan kepentingan gitu? Ngatur-ngaturnya apa gimana?

Akbar: Halah, bertubrukan kepentingan euy. Hahaha.

Latif: Jadi sebenernya gini, sih, Rafi kontak saya buat ngisi vokal, nggak tau project apa. Eh ternyata sama Akbar, karena Akbar juga additional player dari Gauth. Sering latihan, dan kami sempat bikin lagu juga. Jadi sayang kalau nggak bikin project. Dan sekarang, karena drummer-nya Gauth juga balik lagi, agak semangat lagi.

Pabeulit kieu. Kalau kalian nyebut musik yang kalian maenin ini apa?

Akbar: Hmm….. hardcore punk, sih.

Rafi: Banyak terinspirasi band-band emoviolence kayak Orchid, Ampere.

Akbar: Umumnya mah sebenernya disebutnya hardcore punk, sih. Cuma kalau dibandingin sama band-band yang udah ada, kami lebih ke sub-genre-nya kayak post-hardcore atau 90’s screamo/skramz gitu. Intinya tetep hardcore punk.

Jadi, kalau saya sebut kalau kalian itu band emo, nggak masalah, dong?

Akbar: Yaa mau disebut dangdut juga boleh, sebenernya. Teu nyambung nya? Tapi kami nggak masalah mau disebut apa juga.

Yang penting mah bermusik?

Latif: Karena kami mainnya juga nggak melulu di scene emo. Anjir~

Rafi: Yang pure emo ini *nunjuk Latif*, kalau ini… naon maneh, Bar?

Latif: Pure hardcore, metal. Hahahaha.

Akbar: Emo, metalcore.

Latif: Karena naiknya juga sama temen-temen di scene hardcore punk, sih, jadi nggak terlalu ngotak-ngotakin genre. Sama semua juga.

Akbar: Heeh. Nggak masalah mau disebut apa juga, yang penting mah kami main aja.


Nyambung dikit, nih. Menurut kalian, emo itu apa, sih?

Akbar: Anjir! Go****! Hahahahahaha.

Rafi: Emo itu buuk.

Latif: Saya juga sebenernya ngikutin emo tuh baru-baru ini, sih. Sempet ngikutin band-band kayak Jolly Jumper, Alone at Last*, sama band-band emo MTV dulu. Dari masa remaja. Anjir, masa remaja. Hahaha. Jadi tanpa band itu, kita nggak bakalan tau band-band emo juga. Tapi makin sini juga eksplor sendiri kayak post-rock screamo, Envy yang gitu lah.

Jadi apa itu emo menurut kalian?

Akbar: Emo itu adalah sebuah ekspresi emosi.

Rafi: Meneriakan…

Latif: …kecemasan.

Akbar: Sebenernya susah, ya. Disebut musik, iya; disebut ekspresi jiwa, iya. Jadi intinya nggak bisa dideskripsikan secara baku.

Latif: Tanya aja hati. Hahahaha.

Rafi & Akbar: Tah eta. Hahahahaha.

Kalau pendapatnya soal scene emo Indonesia saat ini, gimana?

Latif: Lumayan, lah. Dari 2012 mulai naik, emo-emo Revolution Summer yang juga jadi inspirasi kami. Kalau di sini yang awal-awal kayak Amukredam, dan lain-lain, terus ada kompilasi juga di mana saya sama Gauth juga ikut kontribusi, namanya Revolution Autumn.

Akbar: Drummernya juga masih saya itu. Hahaha.

Latif: Iya, yang ngisi drum-nya Akbar. Pas Revolution Autumn #1 itu band-bandnya pada keren, agak minder sama Vague, LKTDOV, dll. LKTDOV itu salah satu band legend di Indonesia. Akhirnya Glare ikut di Revolution Autumn #2, walaupun orangnya sama kayak pas Gauth kontribusi di Revolution Autumn #1, tapi konsep dan namanya beda.

Akbar: Kalau nggak salah, dari sekitar 2012-an seinget saya awal-awal munculnya lagi.

Latif: Revival.

Akbar: Nah, revivalist-nya itu kayak Amukredam, Vague, LKTDOV.

Rafi: A City Sorrow Built.

Latif: Terus sekarang, scene ini mulai bergairah lagi.

Akbar: Sebenernya gara-gara ada dokumentasinya itu, ada Revolution Autumn. Dari situ mulai ada dokumentasi. Karena dokumentasi juga kalau menurut saya pribadi, jadi salah satu faktor yang bikin kami dikenal juga, sih.

Biar kedengeran sama orang banyak gitu ya?

Akbar: Heeh, kedengerannya itu mulai dari situ.

Latif: Dibantu juga sama dari temen-temen media, salah satunya ROI!. Hahahahahaha.

Sa ae, jadi malu. Kalau buat di Bandung-nya sendiri gimana menurut kalian?

Latif: Kalau sekarang, sih, mulai ada band-band baru yang bermunculan selain Gauth dan Glare. Dari temen-temen juga, sih, sebenernya, salah satunya Ailllis yang barusan main bareng Gauth, ngebawain musik midwest emo gitu. Di Bandung mulai rame.

Latif: Iya, tapi kalau yang saya salut, sih, Malang. Di sana ada Beeswax, Shewn.

Rafi: Laora, No Love.

Eu…

Latif: Anjir loba keneh euy, aing sieun teu lulus ieu.

Rafi: Essay ieu teh, lain PG.


Sekarang kita bahas EP kalian. La Dialletica EP itu nyeritain tentang apa, sih?

Latif: Si La Dialletica ini sebenernya otaknya Akbar. Sok Akbar cerita aja.

Rafi: Eksistensi diri. Lieur.

Akbar: Penamaan EP-nya sendiri ini dari kata “dialettica”. Saya sendiri berpikiran kalau hidup itu semacam paradox. Segala hal yang ada di dunia ini sebenernya saling bertentangan. Hidup-mati, baik-jahat, sagala rupana gitu. Semua lirik di EP ini saya yang bikin, liriknya mungkin bisa dibilang klise, tapi emang diambil dari pengalaman pribadi saya. Terutama waktu itu saya terinspirasi dari film-filmnya Charlie Kaufman.

Latif: Emang band beurat ieu mah. Hahaha.

Akbar: Dari Synecdoche New York, terus emang lagi naon nyak? Istilahnya mah lagi existential crisis. Anjir~

Latif: Aing mah sebagai vokalis, ngarti ih~ Hahaha.

Akbar: Kalau emang keliatannya kayak pretensius, sebutlah kami pretensius. Tapi da yang intinya mah ya, itu suara hati. Suara jiwa saya.

Latif: Kalau proses penggarapannya sendiri nggak begitu lama. Mereka udah punya materi, masih minus vokal. Terus ngontak saya, dan sekitar 2 minggu latihan, ngulik, akhirnya beres. Band express ieu mah da. Hahahaha. Nggak begitu ribet, sih.

Tapi walaupun gitu, keren juga. Soalnya kemaren saya baca di salah satu situs, La Dialettica EP ini dinobatkan sebagai salah satu album terbaik di 2015 sama Mz Alfan, sesepuh emo Malang.

Latif: Mz Alfan itu salah satu legend di forum-forum emo.

Akbar: Saya juga sebenernya tau post-hardcore itu salah satunya dari forum yang dibikin sama Mz Alfan. Bisa dibilang bangga sekaligus malu disebut-sebut sebagai album terbaik gitu.

Rafi: Iya, sejajar sama Barasuara.

Akbar & Latif: Hahahahahaha.

Akbar: Kami nggak berharap, sih, bikin album buat jadi yang terbaik. Tapi seneng juga ada yang nge-notice kami. Notice me senpai! Hahaha.

Latif: La Dialletica EP ini dibantu sama beberapa temen, termasuk label sendiri juga, Benalu Records. Karena dari awal kami kirim-kirim demo sama label, tapi nggak ada yang masuk dan akhirnya bikin label sendiri dan dirilis 2 versi, yang Indonesia sama Benalu Records, di Malaysia sama Utarid Tapes dan sold out. Alhamdulillah boga band, terus sold out.

Akbar & Rafi: Alhamdulillah~

Ai stok yang di Indonesia gimana?

Latif: Belum habis, nggak laku. Hahahaha.

Jadi kalau yang mau beli, masih bisa yaah?

Latif: Iya, masih bisa.

Kalau rencana terdekat buat si Glare, kira-kira apa?

Akbar: Rencana terdekat bakalan rilis split.

Rafi: Iya, sama band hardcore punk Jogjakarta, Warmouth.

Kapan tah kira-kira?

Latif: Sebenernya project ini udah molor setahun lebih karena ada problem dari labelnya.

Akbar: Anjir label. Band label. Hahahahaha.

Latif: Jadi terus diundur, mungkin sekitar Mei. Terus ada juga album split 3 negara, dari Indonesia perwakilannya kami, dari Australia ada Endut! Hoch Hech!, sama dari Singapura ada Sifulan. Sebenernya lebih fokus buat menjalin koneksi dari rilisan gitu. Kalau main kan kami emang jarang. Palingan kami bikin show sendiri biar main. Kalau nunggu diundang juga nggak akan main-main. Hahahaha.

Akbar: Jadi sendiri weh bikin. Bikin ruang sendiri.

Latif: Terus kami di sosial media recet sama orang pengen main di sini-di sini. Nggak. Jangan lah. Kalau mau band temen kamu yang bagus pengen naik, yaa bantu. Nggak usah nyalahin media. Bantu aja bandnya dengan kamu bikin showcase atau apa.

Akbar: Yang mau main, bikin gigs sendiri. Yang merasa musiknya kurang terekspos, bikin media sendiri. Bikin zine kek, atau bikin apa gitu. Nggak perlu nunggu ditodong sama orang lah. Kalau misal yang kita buat itu layak diketahui sama banyak orang, yaa langsung aja bikin. Nggak perlu ngemis-ngemis.

Da sekarang mah gampang, sih, yaa apa-apa juga, ada internet.

Akbar: Heeh, bisa dikerjain sendiri ai sekarang mah.


Harapannya buat scene emo lokal ke depannya gimana? Masing-masing.

Latif: Pengen berkembang, sih. Juga pengennya jadi lebih banyak bandnya, soalnya dari satu kota saat ini cuma ada beberapa. Jadi pada jauh. Kalau di Indonesia, koneksinya ada di orang-orang daerah Padang, Bogor, Depok, Jogjakarta, Bali, Kalimantan.

Akbar: Kalau buat saya sendiri, sih, dari bertahun-tahun yang lalu juga walaupun nggak banyak keekspos sama media, tapi tetep ada beberapa media yang mengeksposnya. Dalam artian, walaupun nggak terlalu tertangkap sama masyarakat banyak, tapi tetep hidup. Tetep mandiri dan militan.

Rafi: Eu… harapannya mah makin banyak ajalah band-band yang kayak kami. Sama orangnya teh jangan itu-itu lagi, pengen ada generasi barunya gitu. Anjir, jiga naon wae. Hahaha.

Latif: Terus ayeuna mah geus rada usum, sih.

Akbar: Iya, udah lumayan mewabah. Kayaknya, sih, kalau ditunggu juga di tahun ini ada band-band yang muncul lagi band-band serupa.

Latif: Yaa, walau nggak selalu ada, tapi hangat lah. Ciee.

Akbar: Nah itu, intinya mah yang ditekankan itu kualitas, bukan kuantitas. Tapi kalau lebih banyak juga kami seneng, soalnya jadi lebih rame.

Terakhir, coba kasih pesan-pesan buat warga kreatif.

Latif: Naon nyaak? Akhirnya di-interview oge ku media. Hahaha. Sempet saya juga sering baca website-nya. Bahasanya asik.

Akbar: Apa ya. Rajin belajar aja pokoknya mah.

Rafi: Pantengin aja si ROI!, biar tau info-info terbaru dari dunia musik.

Sebenernya masih pengen ngobrol banyak, sih. Tapi karena mereka masih harus beberes, terus nemenin Ruth buat makan dan siap-siap pulang ke Singapura, jadi aja mesti udahan ngobrolnya. Sedih. Pokoknya mah sukses buat album split-nya, dan ditunggu banget acara buat band-band skramz di Bandung. Salam Planet Remaja! Peace, Love, and Gaul~

_______________________________________

Twitter : @glareeeee

Instagram : instagram.com/gauthglare

Bandcamp : glareeeee.bandcamp.com/album/la-dialettica

Foto: dok. Glare

Neng, ayo neng. Ayo main pacar-pacaran.