“Getok Tular 2”, Sebuah Proses Lelang Waktu Luang

Selagi datangnya hujan, di kawasan terpadu Omuunium, tepatnya di Omnispace hari Sabtu (6/5) kemarin mulai padat merayap, seperti jalanan kota Bandung di akhir pekan yang membuat kepala penat. Bedanya di Omnispace ramai oleh puluhan pelelang karya seni. Berbagai macam karya seni yang dipajang dalam pameran Getok Tular 2 sejak tanggal 24 April 2017, akhirnya dilelang pada sore hari itu.  Dalam proses lelang juga terasa aroma persaingan yang cukup menarik, soalnya beberapa peserta sudah mengincar karya tertentu saat pameran.

Tahun ini setiap karya yang dipamerkan harus memiliki tema Waktu Luang, jadi gagasan apa yang didapatkan di waktu luang, ataupun gagasan apa untuk mendapatkan waktu luang. Absurd bukan? Tema ini muncul disebabkan oleh sebuah fenomena dimana pekerja kreatif yang menggunakan waktu dalam hidupnya dengan porsi yang nggak jelas kapan aja digunakan, saat kita berifkir mereka sedang tidak berfikir dan sebaliknya. Nangkep nggak tuh? Aku juga bingung awalnya. Hehe. Ya intinya, fenomena ini mengharuskan para pelaku industri kreatif untuk membuat karya dari waktu luang, bukan waktu yang direncanakan. Rumit namun menyenangkan, bukan?

Tujuan acara ini, sih, kalau kata Kang Ewing untuk memberi wadah bagi semua orang untuk mengekspresikan diri melalui karya seni. Jadi bukan hanya seniman yang dapat berkontribusi, bahkan menganjurkan sampai tukang parkir untuk berkontribusi dengan karyanya. Boljug juga. Kata kang Ewing juga acara ini digelar untuk menghadirkan sebuah pengalaman melelang. Soalnya lelang masih menjadi sebuah hal yang menakutkan, karena harganya yang tidak affordable.

Nah, bedanya di Getok Tular 2, semua orang diberikan kesempatan untuk menjadi seorang kolektor seni! Dengan harga karya lelang mulai dari 25 ribu. Murah kan? Jangan sembarangan, karya-karya ini mulai dengan harga yang murah namun tidak murahan. Karya-karya ini hadir dengan wujud sesederhana mungkin sampai karya yang kompleks. Ada, sih, yang harga lelangnya mulai dengan harga yang cukup tinggi seperti karya ilustrasi Riandy Kurniawan, fotografi Anang Saptoto, dan  karya video Fluxcup. Yang penting semua hasil pelelangan semua karya sore itu digunakan untuk mendukung kegiatan lain yang dilaksanaan oleh Omnispace tercinta dan juga untuk perbaikan dinding yang dicoret-coret buat deskripsi setiap karya, serta perbaikan dinding yang sempat dibolongin demi salah satu karya dosen seni rupa ITB, Asmudjo Jono Irianto, dengan judul “The Invinsible Concept”.

Kalau kita menang lelangan karya hari itu, kita mendapat sertifikat penjulukan ‘Saya Seorang Kolektor Seni’. Aku, sih, patut bangga kalau dapet sertifikat itu, sayangnya sore itu isi dompet aku cuma 15 ribu. Hanya pas untuk bayar ongkos pulang menggunakan ojek online, jadi aku nonton aja deh. Tentunya yang datang hari itu baru gajian awal bulan dan siap menerima kenyataan kalau akhir bulan ini mereka akan makan nasi dan tempe sehari 3 kali. Nggak gitu juga kalee~

Foto: Aldy Irfan

 

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot