Galeri World’s End: Platform Seni Global melalui Webstore

Lahirnya sebuah galeri bernama World’s End di Bandung pada awal tahun 2016, merupakan langkah awal bagi Villains, sebuah creative agency asal Singapura, menapakkan kakinya di Indonesia. Walaupun terdengar menyeramkan, arti kata World’s End sebenernya nggak ada hubungannya dengan dooms day. Malah kata mba Okky, manager galeri World’s End, “Kami percaya di mana ada akhir, di situlah ada awal yang baru.” kebalikannya banget kan ya! Tuh, jangan terlalu cepat menginterpretasikan sebuah nama.  Malah sebenernya World’s End itu adalah ruang alternatif baru yang diciptakan oleh Villains dan memiliki misi untuk menjadi platform seniman-seniman di Bandung, bukan untuk mengingatkan kita dengan seberapa dekat hari pembangkitan. Menarik~

Karya beberapa seniman dari Indonesia seperti Elfandiary, Riandy Karuniawan, Morrg (Indra Wirawan), dan Mirfak Prabowo dapat kalian temukan juga di webstore kepunyaan World’s End. Bahkan karya artist dari Amerika, Australia, Singapura, dan beberapa negara lainnya juga dipamerkan secara online oleh World’s End. Kalau karya aku berada dalam satu platform dengan karya bule-bule, sih, seneng lah ya. Aduh, naha jadi kampring kieu? “Dengan sistem global seperti ini, artist-nya seringkali jadi bisa berkolaborasi karya bareng,” ujar Kak Okky menjelaskan lebih lanjut tentang harapan nggak terduga yang sering terjadi di galeri World’s End.

Pas pertama kali melihat karya-karya artist di web dan karya Riandy Karuniawan yang kebetulan sedang dipamerkan di galeri World’s End, terlihat sekali gaya seni yang disukai oleh World’s End adalah pop art. Kreasi karya dengan berbagai makhluk yang nggak duniawi dan berwarna seperti es krim paddle pop rainbow ini, menarik pehatian banget. “Sebenernya kita nggak membatasi genre, tapi mungkin karena pengaruh kultur film dan anime yang sekarang mulai emerging menjadi sebuah style,” kak Okky menjelaskan.

Melihat industri seni di Bandung yang berkembang pesat, kota yang memiliki banyak seniman kreatif dengan semangat yang menjulang tinggi namun kurang diberi kesempatan atau diwadahi, Villains merasa tepat untuk menempatkan World’s End di Bandung. Menurut aku, galeri World’s End merupakan ruang alternatif yang memegang peran penting dalam membantu seniman. Dengan cara mereka mengarahkan, mengeksplorasi, mengekspos sebuah karya seniman agar layak dipamerkan, bahkan mereka juga menjual karya sang seniman di online store-nya. Walaupun kurasi karyanya yang cukup ketat, World’s End bertujuan agar semua karya terjaga kualitasnya dan hasil pameran memuaskan bagi pengunjung maupun artist-nya sendiri. Online store kepunyaan World’s End memiliki pasar yang global, jadi karya para artist yang dipamerkan online ini dapat dilihat dan dibeli oleh siapa pun di seluruh dunia. Asal punya uang.

Banyak yang direcanakan untuk ke depannya oleh galeri World’s End. Sebagai ruang alternatif, inginnya berkontribusi lebih banyak terhadap masyarakat Bandung. Rencana seperti mengadakan workshop, artist talk, bahkan kontribusi dalam acara komunitas seperti yang sudah pernah dilakukan dengan Comic-Con dan SWDBDG, ingin mereka adakan lagi. “Pengennya, sih, tahun depan ngadain semacam festival dan rencananya bakal berkolaborasi dengan alternative space lain di Bandung. Tapi, masih rahasia.” Tuh warga kreatif, udah dibocorin sama mba Okky salah satu rahasia besar World’s End. Kita tunggu saja, ya, semoga rencana yang akan dibuat oleh mereka bisa segera terwujud! Stay tuned ea! Eh, berasa kayak lagi siaran di Radio~


World’s End Gallery

Surapati Core, Blok J No.23. Jl. PHH. Mustofa No.39, Bandung.

Website: worldsend.co

Facebook: World’s End

Instagram: instagram.com/w0rld53nd

Foto: dok. ROI! & World’s End

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot