Fuzzy, I: Tetap Natural Meski Berisik

Di tengah hingar bingar, hiruk pikuk dan penuh sesak skena musik di indonesia, Bandung sebagai kota dengan berbagai kreativitas masih menjadi salah satu kota yang aduhay aduh manisnya untuk menghasilkan musisi-musisi berkelas. Bukan sekadar “meramaikan” skena musik doang. Lebih dari itu, Bandung siap membuat “kerusuhan” yang tenang abadi nan jaya. Hal tersebut bisa didapatkan dari satu grup band yang secara marketing menyebut noise rock sebagai genre mereka.

Yaps! Kali ini saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol santai tampan menawan bersama Fuzzy, I. Band yang saat ini berada di bawah naungan Leeds Records, digawangi oleh empat sekawan yaitu Derry, Qomar, Eman dan Ginanjar, komedian yang hits di era 90an lewat acara lika liku laki laki. Oke maaf salah fokus, balik ke Fuzzy, I, kwartet noise rock asal kota kembang ini digawangi oleh 4 sekawan. Eg “mekel”(vokal), Fathara Rizqi (bass), Mufti Rizky (drum) dan Erdi Wisnu (gitaris, merangkap investor Fuzzy, I).

Banyak keseruan yang terjadi selama hampir kurang lebih setengah jam kami berbincang hangat. Kebetulan sang investor, Erdi, berhalangan hadir, jadi udah weh sama mereka bertiga aja. Tentunya nggak mengurangi kegaringan dan ketidakberbobotan obrolan kami di salah satu kedai di bilangan Dipati Ukur, Bandung. Inget ya, nggak penting, nggak usah di-scroll ke bawah.

 

Sejarah Fuzzy, I kan bisa dibilang beda yah dari band lain. Katanya kalian terbentuk dari beberapa band. Bisa diceritain nggak?

Eg: Betul, saya dan Mufti di Wasted Boys Project, Fatzky di KUTOFF dan Erdi di Grindsuffering. Jadi begini, dulu kan saya sama Mufti sempet satu band. Sempet nggak jalan juga karena nggak punya gitaris tetap. Terus Mufti pernah ke band lain juga, terus akhirnya suatu waktu kita berdua pengen band-band-an lagi, terus saya ngajakin Erdi yang sekarang jadi investor kita buat jadi gitaris, ngajakin kiki di bass. Dan awalnya semuanya pengen kayak The Beatles si band ini teh. Ya pokoknya nyobain aja dulu di studio lah.

Itu teh tahun?

Eg : 2015 awal.

Mufti: 2014 akhir, sih, ngerancangnya.

Fatzky: 2014 akhir ngerancangnya, prak-nya mah 2015 awal. Gitu aja biar adil. Dan april 2015 rilis single pertama kita, Animal Gaze.

Berarti kalian keitung cepet yah naiknya?

Eg: Yaaah nggak usah lama-lama lah, kita mah kebelet sukses hahaha.

Kok bisa Fuzzy, I namanya?

Fatzky: Gantinya Wasted Boys Project, tadinya mau pake nama itu lagi, tapi nggak jadi karena ada pilihan Fuzzy, I.

Udah gitu aja? Filosofinya apa?

Fatzky: Nggak ada hahahahaha.

Bagus banget. Terus sekarang kalian beranggotakan 4 orang?

Muft: Masih 4, sih.

Eg: 4 menuju ke 5 lah, karena si Erdi masih kerja dan kita sama Piun. Tapi doi juga masih mau-mau nggak mau.

Fatzky: Piun itu dari Attack This Town, kita semua suka sama dan banyak ter-influence dari Attack This Town hahaha.

Formasi tanpa Erdi Sang Investor
Formasi manis manja tanpa Erdi.

Ada misi khusus nggak, sih, dari Fuzzy, I untuk meramaikan skena musik di Bandung ini?

Eg: Kalem, eta jawaban anu mimiti geus ngajawab pertanyaan anu bieu can, sih? Hahahaha.

Seriusan dikit, Pak.

Fayzky: Misi Fuzzy, I ngabisin duit, karena kita nggak menghasilkan duit. Hahahaha.

Muft: Dan ngomongin misi, sih, nggak tau juga yah, apakah ada yang minat sama musik kita apa nggak haha. Jadi ya kita mah main aja terus.

Eg: Ya pada dasarnya, sih, kita intinya yaudahlah main dan bikin musik aja gitu. Ya sama biar dapet cewek lah. Kalem ieu garing kieu lah, piraku engke teh ditulis di internet teh misi kalian apa? Bikin musik. Garing kieu aduh hahaha.

Udah santai, ROI! selalu menyajikan informasi dengan cara yang asik dan menarik da. Terus ada kendalanya nggak, sih, selama kalian menjalankan misi tersebut?

Fatzky: Ada.

Eg: Pasti ada yah.

Fatzky: Banyak, banyak banget malah.

Eg: Dalam bermusik, sih, skill yang jadi kendala kita.

Ngomongin skill kalian yang nggak seberapa itu, sebenernya kalian bermain musik di jalur apa?

Muft: Nah, kita juga nggak tau maenin genre apa. (Mufti banyak jawabnya nggak tau sama nggak, coba perhatikan)

Eg: Buat genre, sih, kita marketingnya mah noise rock, main di term noise rock.

Noise rock yah. Terus influence kalian noise rock juga apa beda-beda?

Muft: Duh takut disangka sombong atau gimana euy. Kalo aku sih…

Fatzky & Eg: AKUUU SIHHH…

Muft: Kalau aku, sih, dengerin MathRock, soalnya pengen banget bikin band mathrock. Cuma kan ya skill nggak ada tea geuning. Nggak bisa sampai titik itu. Saya juga dengerin post-hardcore 90an kayak Drive Like Jehu, Fugazi.

Fatzky: Kalau urang, sih, yah Nirvana, jehu (Drive Like Jehu). Tapi ya sebenernya kalau urang, sih, sebelum gabung Fuzzy, I lagi dengerin metalcore, tapi ya itu mah udah lalu lah yah. Yang udah mah biar udah, sekarang mah dengernya Isyana, Lala karmela sama ada yang baru tuh Sky Sucahyo tuh lucu. Hahaha. Udah tiga itu aja deh.

Eg: ……………… The Beatles, sih, nya. Da apalagi atuh hahhaha semua orang juga suka. Terus Yovie n Nuno, Jesus Lizard, Melvins. Sama…

Peot: Ayu Tingting lah Sambalado.

Semua: HAHAHAHAHA.

Eg: Ya pokoknya Heals, Pipepole dan Attack This Town banyak mempengaruhi musik kita.

Flyer Naivety Colour 3 copy
Artwork buat single Naivety.

Nah kalian juga kan udah ngeluarin single kedua yang berjudul Naivety. Ceritain dong ini tentang apa? Dan si Naivety ini bakal jadi gerbang kalian buat bikin album nggak?

Eg: Lagu tentang apanya mah simpel, sih. Pada awal pembuatan liriknya, saya pengen buat lirik yang menceritakan tentang kekacauan dunia yang disebabkan oleh manusia. Sesingkat itu soal Naivety mah. Terus soal album, kita lagi recording bukan buat album. Kemaren-kemaren banyak ditulis di medianya album. Kita, sih, lagi fokus EP aja dulu dan insya Allah rilis awal 2016.

Muft: Dan buat album juga, kita belum berani juga, sih. Karena belum ada banyak materi buat skala album mah.

Fatzky: Belum berani dan uangnya juga belum ada, ya sekadar say hello aja dulu.

Saya udah cek soundcloud kalian, dan kalian teh udah masuk label records yah, Leeds Records? Gimana caranya bisa kerja sama bareng?

Fatzky: Awalnya twitteran.

Eg: Awalnya twitteran, jadi Leeds Records buka sayembara buat band-band kompilasi, mau bikin kompilasi yang isinya band noise rock. Terus ya kita langsung aja mention-mentionan, dan Leeds Records suka dengan Animal Gaze.

Tanggapan kalian buat skena musik Bandung saat ini dong.

Eg: Saya liatnya, sih, kayak masing-masing gitu, kayak sekarang nggak sedikit band yang lahir dari komunitas-komunitas dan mereka juga maennya di komunitas itu aja. Kadang juga ada yang maen ke komunitas lain terus-terusan dan biasanya itu, sih, yang bikin band tetep eksis di Bandung. Sekarang juga udah banyak, sih, bermunculan band-band yang baru dan bagus perkembangannya, cuma kurang aja media yang meliputnya.

Fatzky: Emerging, skena musik Bandung panas, semua berlomba-lomba.

Eg: Dan yang tadi saya bilang kurang medianya, maksudnya kadang si media kurang menyadari kalau di skena musik Bandung itu si aktornya banyak, pelakunya banyak, tapi media kurang bisa mengemas band-band Bandung dengan baik. Padahal event di Bandung sendiri banyak. An Intimacy salah satu event yang keren karena mengumpulkan band dari berbagai komunitas dan dipilih secara objektif, sponsornya bagus media partner-nya banyak dan setelah event-nya pun ada dokumentasi yang real, yang bikin si band yang main di sana jadi tetep bagus dan eksis.

Ya contoh band yang eksisnya Fuzzy, I lah yah?

Fuzzy, I: Heals lah, jebolan akademi An Intimacy hahahaha.

Terus sekarang Fuzzy, I lagi ngapain? Ada proyekan atau ada something?

Fatzky: Ya paling EP keluar awal 2016… pengennya.

Eg: Sekarang juga lagi ngerjain artwork, terus recording dan manggung-manggung aja.

Pengen denger harapan kalian buat Fuzzy, I sendiri.

Muft: Kalau buat Fuzzy, I mah, sih, tetep berkarya karena banyak deadline yang harus dikejar juga. Semoga lancar terus dan banyak uang karena kita banyak kebutuhan. Intinya terus bikin musik yang lebih bagus dari yang sudah ada.

Eg: Yang nge-play Naivety di soundcloud nyampe 17.000 hahaha.

Fatzky: Biar bisa dijadiin uang hahahaha.

Eg: Ya pokoknya Naivety banyak yang denger dan banyak yang suka. EP semoga responnya bagus dalam segi penjualan.

Kalau harapan buat skena musik Bandung apa?

Fatzky: Pengennya banyakin festival-festival musik gede di Bandung.

Peot: Iya betul, biar kayak era 2007-2009 ketika lagi pecah-pecahnya musik di Bandung, banyak festival yang keren-keren.

Eg: Perbanyak apresiasi aja buat musik Bandung, karena Bandung selalu punya kejutan buat musik di tanah air.

image2
Itu ada yang ngerokok.

Oke, mulia sekali harapannya, semoga ada yang terjadi. Btw, tema bulanan ROI! kali ini kan Pariwara, atau iklan. Nah, buat Fuzzy, I sendiri promo penting nggak, sih?

Fatzky: Hahahaha mantap sekali ini pertanyaan. Pokoknya mah ketika skill nggak bisa berbicara banyak, marketing-lah yang berbicara hahahaha.

Eg: Iklan itu senjata! Penting banget promo itu. Tapi tetep promo juga harus tepat, karena misalnya Fuzzy, I dengan Naivety diiklankan atau dipromokan dengan cara LDR-nya Raisa, itu kan nggak tepat. Bisa membentuk persepsi orang kalau Naivety dan LDR itu sama. Promo juga hal yang penting buat kita sebagai pemusik, karena kita pemusik mengeluarkan produk yaitu musik. Nah, kalau promonya kurang, kepuasan kita dalam bermusik juga berkurang. Kita juga nggak munafik walaupun kita bikin musik se-natural dan se-alami kita, kita juga harus punya kendali dalam penyampaian produk kita ke orang-orang yaitu lewat promo yang baik juga. Supaya kita juga semakin puas dan tetap pada orientasi kita dalam bermusik, yaitu bermusik se-natural mungkin dan bisa didengar seumum DWP.

Terus cara kalian mempromosikan Fuzzy, I ini gimana?

Fatzky: Banyak, sih. Chatting, nongkrong bareng, follow instagram.

Berarti intinya promo kalian saat ini masih lewat jalur pertemanan dan media sosial ya?

Eg: Ya untuk saat ini, sih, seperti itu dulu, untuk ke depannya ya doakan semakin baik dan mudah lah. Karena saat ini juga kita masih berfokus di gigs yang kecil dan intim. Karena menurut kita gigs kecil seperti ini lebih memberikan kepuasan buat kita. Kita juga tetep fokus menyebarkan Fuzzy, I di komunitas kecil dan membuka diri untuk menambah relasi dari scene independent lain. Mau scene black metal, stoner, punk, indie pop, ya pokoknya banyak main dulu, selanjutnya gimana nanti.

Mantap. Sekarang pengen tau dong masing-masing dari kalian, satu kata buat Fuzzy, I.

Fatzky: Mahal!

Peot: Kasian!

Eg: Sombong!

 

Yah sayang sekali ngobrol antara saya dan band kece satu ini harus berakhir, karena Fuzzy, I harus latihan buat manggung besoknya. Senang sekali, luar biasa sekali bisa ngobrol dan bercanda. Jawaban yang simpel namun berbobot. Patut diwaspadai! Sukses terus buat Fuzzy, I, dilancarkan segala rupa yang membuat kalian semakin jaya! Nuhun.

_________________________________

Twitter : @Fuzzy__I

Soundcloud : soundcloud.com/Fuzzy-I

Instagram : instagram.com/Fuzzy__I

 

Foto : dok. Fuzzy, I & ROI!

cih! Sepele~