Fiersa Besari: “Karya yang Baik Bukan Hanya Dipuji, tapi Juga Dihina dan Dikaji”

Musik selalu bisa menjadi medium yang tepat untuk mengutarakan apa saja yang sedang berkecamuk di kepala. Pemikiran, keresahan, atau karena males nge-chat ke dosen favorit lalu bikin ode sebagai bentuk terima kasihnya. Dan sadar nggak sadar, sebuah pesan yang disisipkan melalui lagu mampu secara mudah ditangkap oleh kita. Mantap, seperti tangkapan Markus Horison yang sekarang udah nggak keliatan di televisi kalau ada siaran bola lokal. Apa, sih, jadi bahas kiper.

Fiersa Besari. Untuk warga kreatif yang berdomisili di Bandung tentu nggak asing dengan nama ini, sering banget muncul di event musik. Begitu kalian denger nama itu mungkin langsung kebayang, “Oh, my lord atuh itu mah”, atau “Oh si eta, aku nggak suka ah”. Edan offense gini kalimatnya. Eh santai, nanti dijelasin kenapa saya nulis gitu hahaha. Baca dulu sampai bawah. Bawah flyover Pasupati.

Sibuk merencanakan tour dan sedang concern ngurusin bukunya yang berjudul Garis Waktu, sebuah buku yang isinya kumpulan pemikirannya, yang sekarang sudah beredar luas dan bisa kamu beli pake uang mamah. Ya, itu kesibukan Fiersa saat ini, seperti penuturannya kepada tim Ngamplag Infobdg TV. Musisi yang juga penulis ini identik dengan lagu cinta. Cinta kalau dibalik jadi atnic. Hehe. Kenapa? Padahal banyak banget isu yang menarik untuk dibahas. “Dulu pernah memformulasikan lagu yang bertema sejarah, nasionalisme. Tapi kurang nge-hook ke anak-anak muda. Sampai suatu ketika, Fiersa disadarin sama seorang kawan, dosen di ISBI,” kisahnya. Menurut kawannya itu, zaman sekarang sudah nggak relevan bila kita mempengaruhi anak muda dengan turun ke jalan layaknya zaman Soe Hok Gie, melainkan dengan cara menyusupi mereka dengan apa yang mereka suka.

Berangkat dari situlah Fiersa, yang juga menyukai lagu cinta, memulai usahanya untuk membagikan pemikiran positif. “Saat Fiersa sudah didengar, baru Fiersa propagandakan dengan pengetahuan-pengetahuan lain,” kata Fiersa. Menurutnya, karya-karyanya terinspirasi dari banyak sudut pandang. Pengalaman pribadi, maupun kisah kawan-kawannya. Sejauh ini, ia sudah melahirkan album 11:11 (2012), Tempat Aku Pulang EP (2013), Tempat Aku Pulang (2014), dan terakhir ia merilis Konspirasi Alam Semesta (2015). Dan memang betul, musiknya yang easy listening serta vokal yang gurih, menjadikan pesan yang ia sampaikan melalui lirik lagu mampu lebih mudah dipahami.

Nah, sekarang saya jelasin tadi kalimat yang di atas tea. Pengagum Nirvana, Efek Rumah Kaca, The Goo Goo Dolls dan Frau ini nggak peduli sama haters, dan malah menganggapnya sebagai bagian penting dari perjalanan kariernya. “Jika semua orang menyukai karyamu, berarti ada yang salah dari karyamu, karena karya yang baik bukan hanya dipuji, tapi juga dihina dan dikaji,” tuturnya. Ih sedep, manis gini quote-nya. Pantes tweet-nya banyak yang retweet.

Jadi, setelah pencapaiannya sejauh ini, apa harapan terbesar dari seorang Fiersa? Makan pecel lele Podomoro? Oh tentu bukan. “Akan ada satu titik di mana kita jenuh dengan hingar-bingar, keramaian, dan kita ingin hidup menyepi di suatu tempat, tenang dan suasananya pedesaan, entah pantai atau gunung. Dan Fiersa hidup bahagia selamanya bersama keluarga di situ,” jawabnya dengan antusias.

Yaudah deh, simak selengkapnya hasil obrolan Fiersa Besari dan Infobdg di bawah ini. Oh ya, pada kesempatan tersebut, doi bawain lagu Garis Waktu dan Celengan Rindu. Adem. Tonton gih!


______________________________

Web: infobdg.com | infobdg.tv

Twitter: @FiersaBesari@infobdgTV

Soundcloud: soundcloud.com/fiersa

Ruang Alternatif Kamu