“Festival Arsitektur Parahyangan 2017” dan Isu Kontemporer Kampung Kota

Warga kreatif! Kalau kamu mengikuti insta stories-ku, sekitar Jum’at dan Sabtu (19-20 Mei) di minggu lalu, Aku mampir ke salah satu event terditunggu-tunggu setiap tahunnya yaitu, Festival Arsitektur Parahyangan 2017 (FAP), entah sudah yang ke berapa kalinya, tapi tahun ini nggak kalah seru sama FAP sebelum-sebelumnya! YAY!

FAP 2017 kali ini bertemakan “Kampung Kota” yang sekarang menjadi isu kontemporer cukup hot di lingkup perancangan kota. Himpunan Mahasiswa Arsitektur Parahyangan ingin mengangkat isu ini untuk memberi kesadaran kepada masyarakat awam akan salah satu dari beberapa banyak isu kontemporer yang sedang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Festival ini merupakan bentuk keaktifan para mahasiswa arsitektur dalam berperan di lingkup desain dan arsitektur era pascamodern.

Setiap tahun yang paling ditunggu-tunggu dari FAP adalah instalasi dan dekorasinya yang super duper megah, ya, gimana nggak? Orang yang mendesain anak arsi, dan memang betul, instalasi FAP tahun ini mengarahkan dan mengantarkan para pengunjung dari awal masuk gerbang keamanan sampai tiba di depan panggung pertunjukan band-band ajojing. Instalasi yang paling membanggakan menurutku sih grand instalation angkatan 2016, yang berupa labirin mengantar pengunjuk ke ruang demi ruang untuk dapat memvisualisasikan secara ruang mengenai apa maksud dari kampung kota. Dekorasi dominan terbuat dari kardus, jadi saat berliku-liku melewati instalasi labirin berasa sedang di kardus land, sorry, harusnya lego land. Ya pokoknya seru deh, begitu menarik dan tanpa disadari Aku seperti diajak berdialog dengan ruang yang memegang peran sebagai activity generator sebuah kota.

Festival ini mengundang 2 guest stars, yaitu G-PLUCK yang suaranya merdu sekali membawa nuansa The Beatles kembali hidup dari alam kuburan, walau terdengar menyeramkan. Satu lagi OM PMR, yang nggak diragukan lagi performance dari mereka kualitas bintang 5, joget-joget pada malam jumat keliwon~ azek azek~ Talent lain seperti seni pertunjukan teater dari Teater Payung Hitam, Tarian Ratoh Jaroe dari Aceh oleh SAMANARS, dan band band lainnya seperti Symphoni Polyphonic, Sins O Suns, Tamija, dan The Panas Dalam juga nggak kalah meriah dan semakin menambah seru kegiatan malam itu.

Hal yang membedakan FAP tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah waktu pelaksanaannya yang dibagi menjadi dua hari. Ini karena pada hari pertama FAP (19/5) diadakan seminar yang mengundang beberapa tokoh yang berperan dalam perencanaan kota, seperti Ahmad Djuhara (Ketua IAI Indonesia), Ir. Muhammad Thamrin, dan Ir. Bambang Sutrisno (Anggota DPR) untuk menjadi pembicara. Nah, ngomong-ngomong soal tokoh arsitek Indonesia, katanya kemarin sempet ada Andra Matin juga di FAP, kalau kamu nggak tau dia siapa, kamu kurang modern. Eh, nggak ketang, bercanda atuh.

Perancang yang satu ini terkenal sekali dengan gaya desain yang tropis minimalis. Selain seminar, di FAP 2017 kemarin juga ada workshop resin dari Mondays dan workshop keramik dari SahlGoods, lumayan lah bisa menambah sedikit ilmu desain yang lingkupnya selain sekeliling bangunan doang kali ya. Namanya juga festival, kegiatannya numpuk sampai nggak cukup sehari doang untuk semua kegiatan. See it! Play it! Get it! Pokoknya seru! Sampai jumpa lagi di Festival Arsitektur Parahyangan di tahun selanjutnya ya~

Foto: Haruka Fauzia

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot