Deddy Wahjudi, Menghubungkan Komunitas dengan Ruang Publik

Asa ada yang kurang gitu, kalau misalnya maen ke Bandung terus nggak foto-foto. Entah itu di taman, di gedung-gedung tua, atau di tempat-tempat kece yang cuman ada di Bandung. Bandung emang banyak banget bangunan bagusnya, terlebih semenjak Kang Emil menjabat jadi Wali Kota Bandung, beuh, asa makin banyak we tempat kece untuk nanarsisan buat aplot di FB. Nah kali ini, aku berkesempatan buat ngewawancarain salah satu tokoh di balik ruang publik yang ada di Bandung. Bukaaan, belom kesampean kalau ketemu sama pak Wali mah. Sama temen sekuliahnya, ada Deddy Wahjudi atau supaya akrab panggil kang Deddy aja. Hehe, sok akrab.

Kang Deddy ini adalah seorang arsitek sekaligus owner dari sebuah biro konsultan LABO. “Semua berawal…” bukan ketika negara api menyerang, ya, “Saya baru selasai kuliah di Jepang, lalu nggak diizinin balik ke Indonesia. Katanya suruh kerja di Jepang aja. Tapi saya nggak mau, saya ingin balik ke Indonesia supaya bisa berkontribusi ke negara,” ujar kang Deddy. Dari situ, mulailah ‘mulih ka kampus’ dan mengajar di ITB, tapi bukan kembali ke arsitektur, melainkan di desain produk. Berlatar belakang master di urban design, kang Deddy buka kelas yang mengajarkan mendesain fasilitas ruang publik, mulai dari bench, halte, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Dari situ muncul kesadaran akan manfaat desain di ruang publik. Inget nggak halte yang ada ayunannya? Nu di Alun-alun tea geuning, tah contohna!

Interview Deddy Wahjudi (3)

Ruang publik menurut kang Deddy nggak harus, kok, jadi tanggung jawab pemerintah, banyak sektor privat yang juga berpartisipasi mendedikasikan tempat misalnya galeri semacam Selasar Sunaryo atau Nu Art juga merupakan ruang publik. Tah gengs, ruang publik teh bukan taman wae. Kalau kalian liat, di Bandung udah banyak taman, ternyata menurut kang Deddy tempat kongkow teh masih kurang. Euleuh. Ceunah mah di Bandung ini teh banyak ruang mati yang seharusnya bisa dikembangkan karena berpotensi. Nggak perlu mendesain keramaian, yang penting kontinuitas di mana ruang publik dianggap menjadi keseharian masyarakat.

“Misal kayak hanya dengan berjalan kaki, orang bisa menyentuh ruang publik itu. Orang bisa berjalan untuk menikmati sungai buat sekadar refreshing sendirian. Nggak perlu dalam konteks crowd, akses untuk satu dua orang juga sudah masuk ke katagori itu,” papar kang Deddy. Permasalahan yang dihadapi Bandung saat ini hanyalah interkonektivitas antar komunitasnya. Bandung pan banyak pisan tah komunitas tapi sayangnya tidak terintegrasi. Maka dari itu hadirlah LABO untuk jadi media koneksi bagi komunitas-komunitas yang ada, karena di situlah letak kekuatan dari Bandung.

Interview Deddy Wahjudi (2)

Dari komunitas yang berintegrasi bisa ngegali potensi-potensi Bandung yang memang dari jaman dulu didesain untuk menjadi Kota besar. Intinya mah ketika semua terhubung kita bisa membuat Bandung makin nyaman atau paling nggak mempertahankan kenyamanan dan identitas tanpa berkiblat kemanapun. Kecuali kalau solat, kiblatnya ngadep Ka’bah.

Ketika peluang ada, izin ada, terkadang menjadi nggak optimum menjangkau masyarakat. Terkesan hanya di pusat kota doang ruang publik teh. Solusinya adalah untuk meningkatkan value dari tempat tersebut dengan mendaya gunakan lahan 24 jam. Kumaha tah? “Semisal kalau siang hari dijadikan tempat jualan, malamnya bisa digunakan untuk tempat lain,” jelas kang Deddy. Oh, jiga lapak cuci mobil nu di Surapati tea geuning, yang kalau malem jadi tempat nasi goreng. Hahaha. Nah, sekarang mah gimana kita aja, nih, sebagai anak muda yang menjaga Bandung agar tetap nyaman. Kayak quotes di bawah buku Sinar Dunia, “when there is a will there is a way,” yuk, ah, bergerak!