Budayakan Berkendara dengan Tertib

Mari sedikit berefleksi. Bukan. Bukan pijat, tapi coba inget-inget lagi kapan kita terakhir yakin Bandung itu Kota Kembang. Saya, sih, sebenarnya ngerasa sebutan itu udah nggak relevan lagi, karena kenyataannya jarang ada kembang tumbuh. Eh, kalau pepohonan, sih, banyak. Mungkin banyaknya pohon ini memang ditanam sengaja buat meredam polusi yang disebabkan banyaknya asap knalpot yang ada di Kota Bandung saat ini.

Di Kota Bandung, lumrah untuk melihat padatnya tingkat kendaraan kalau lagi di akhir pekan. Soalnya, banyak wisatawan domestik yang memilih Bandung sebagai tujuan, karena udaranya yang sejuk. Sekarang, pemandangan kendaraan sering kita lihat nggak di pagi hari, siang dan malam juga banyak. Banyaknya kendaraan ini sebenarnya gara-gara ada sistem kredit murah. Tinggal ngasih DP seharga smartphone, seminggu kemudian kendaraan udah ada di rumah, dan biasanya dalam 1 keluarga, minimal 1 orang punya kendaraan. Sampai-sampai ada yang harus parkir di luar rumah.

Kecenderungan orang memilih menggunakan kendaraan pribadi juga, karena sistem angkutan kotanya yang semrawut dan dianggap nggak efektif. Contohnya, nggak ada kendaraan umum massal yang beroperasi secara 24 jam atau seenggaknya sampai tempat hiburan tutup. Mungkin bis kota yang bagus itu boleh dicanangkan begitu, karena gaya hidup masyarakatnya udah nggak sedikit yang suka pulang malam. Minusnya, sih, tingkat keamanan kota yang suka rawan tiba-tiba.

Selain itu, pasti lah, ada yang suka kesel gitu, misal lagi buru-buru ke kampus, tetiba ada angkot ngetem 4 biji dan memakan 1 lajur. Kalau buat ngimbau angkot untuk berhenti di halte kayaknya, sih, sulit. Udah jadi budaya soalnya. Seenggaknya, ada sistem aplusan dalam per-ngetem-an angkot. Tapi, ya, kewajiban para supir buat nyetor sewa ini yang jadi masalah, dan harusnya pemerintah bisa lebih tegas ke pihak yang ngurus angkutan kota ini.

IMG_6579

Nggak pas juga buat nyalahin angkot, sebenarnya kita juga harusnya bisa melihat dari cara kita berkendara. Sistem contraflow yang suka diterapin di rush hour juga sebenarnya bikin kita malas buat matuhin marka jalan di jam-jam biasa. Padahal kalau kalian tau, marka jalan atau garis jalan yang panjang nggak putus, yang memisah lajur dan jalur itu nggak boleh kita lewatin mau 1 cm aja. Udah ngelanggar hukum aslinya mah. Tapi balik lagi, ya, budayanya gitu.

Sebenarnya buat punya kendaraan pribadi, ya, nggak masalah kalau memang bener berkendaranya. Berkendara yang baik ini kadang yang masih rancu, nggak cuma menggunakan helm, punya SIM, dan juga jago cornering. Berkendara baik juga harusnya kita bisa mengenal lebih baik tentang marka dan rambu lalu lintas yang ada di jalanan. Apalagi adanya kebiasaan untuk parkir kendaraan di mana aja. Saya bingung, kayak di Jalan Braga kan dimensi ruangnya kecil, tapi dibolehin buat parkir di pinggir jalan. Malah, dikasih mesin tiket parkir segala.

Ya, meskipun begitu, nggak cuma sedikit upaya Pemerintah Kota beserta jajaran Kepolisian yang ada di Bandung buat ngatasin kesleboran kita dalam berkendara yang mengakibatkan kemacetan. Dikasih ruang henti kendaraan roda dua, tapi masih suka ngelewatin. Dikasih marka yellow box, tapi masih nggak sabaran. Sekarang lagi dibangun flyover Antapani yang nggak panjang. Ya, walaupun, pembangunannya bikin macet, tapi harus sabar. Mudah-mudahan bisa mengurangi kemacetan. Walaupun masih suka ada kendaraan besar seperti truk yang masih masuk ke jalanan kota yang bikin jalanan terlihat sesak. Padahal udah ada jalan tol yang nyambungin ke tiap-tiap daerah. Bukannya ada regulasi mengenai waktu lintas kendaraan besar bermuatan barang, ya?

Kalau udah macet parah begitu kan, ada lah pasti motor 1-10 yang naik-naik ke trotoar demi mempersingkat waktu tempuh. Lama-kelamaan kondisinya rusak, terus diperbaiki, terus terulang lagi. Malahan suka ada orang lagi jalan kaki terus diklakson. Macet ini ternyata merugikan bagi mereka  yang nggak berkendara juga, ya. Kalau mau saling nyalahin mah gampang, tapi kita emang harus bercermin dulu buat bisa nunjukin kerapihan kita. Kalau nggak mau macet, ya, benerin dulu gaya berkendara kita. Kalau nggak mau kena rush hour, coba berangkat lebih pagi. Kalau mau beli kendaraan baru, jual dulu kendaraan lamanya. Kalau masih belum cukup umur buat punya SIM, jangan merengek. Kalau memang nggak bisa, ya, jangan marah kalau disamain kayak Jakarta kondisi jalanan kotanya. Padahal rival 🙂

 

Kecup sayang,

 

Managing Editor

Ichsan ‘Spaceboy’ Ramadhan

 

Foto: Pandu Arjasa

*Tom & Jerry’s Opening Score*