Bro.do: Memanjakan Brothers lewat Offline Store

Memang sebagai warga Bandung kita harus berbangga hati bahwa anak mudanya adalah “warga kreatif” yang dapat berinovasi dan menjadikan kota ini makin E&. Dari sekian banyak perusahaan buah pemikiran warga kreatif ini, salah satu yang cukup dikenal adalah merk sepatu Bro.do.

Bro.do yang sudah berdiri sejak 2010 ini, masih belum cangkeul, haha ketawa dulu atuh. Nah, beruntunglah aku bisa main ke store mereka dan berkesempatan ketemu dengan salah satu orang di balik brand Bro.do ini. Tempat yang aku datengin ini ternyata punya cerita sendiri buat Bro.do. Berlokasi di Jalan Gudang Utara No. 40B, tempat minimalis di salah satu sudut jalannya itu merupakan toko fisik pertama mereka. Dulu ketika belanja online belom zaman, untuk meraih kepercayaan dari pelanggan masih dibutuhkan toko fisik. Ya maklum lah, tahun 2010 orang masih ragu-ragu untuk beli lewat Facebook kalau bukan trusted shop. Konsumen Indonesia masih paranoid sama jual-beli online, hadeuh padahal sekarang kerjaannya mantengin laptop tiap Harbolnas wkwkwk.

“Kecenderungan masyarakat Indonesia pun berubah, kepercayaan mulai naik dan sampai sekarang memang paling banyak penjualan via online,” jelas Indra selaku Digital Marketing and Campaign. Penetrasi internet ke Indonesia emang bikin bisnis start-up lebih mudah mendapatkan kepercayaan. Yes! Nggak ada obligasi berlebihan bagi Bro.do untuk menghadirkan toko fisik baru, lima store lainnya yang tersebar di empat kota besar saja sudah cukup karena memang sebagian besar datang dari online.

Meski era digital sudah menguasai kita semua, bukan berarti store Bro.do nggak perlu dikunjungi. Kalau kalian tipe orang yang doyan cubak-cabak, nah, pasti kalian lebih suka memegang dan merasakan bahan dari produk-produk yang bakal kalian beli. Kan moal bisa atuh pegang-pegang secara virtual mah, makanya Bro.do masih menghadirkan store offline. Selain itu, kalian juga nggak usah repot-repot nunggu lama kalau salah size, tinggal minta ke tetehnya aja, biar langsung cariin di gudang store. Ih, semantap gitu. Hehe. Ditambah, ada juga tuh, diskon super menarik yang disediakan untuk pengunjung yang datang dan beli langsung di store offline Bro.do. Kalau aku sendiri, sih, tipe orang yang nggak suka dibohongi gitu, harus liat dan rasakan dengan mata kepala sendiri, jadi kalau beli produk Bro.do lebih suka ke store-nya, soalnya enak, bisa pegang-pegang mas nya, eh… Sepatunya…

Untuk menambah estetika dan aktivasi, tahun ini tim dari Bro.do ingin merealisasikan tempat intim sesaat untuk para Brothers-nya. “Kita rencananya, sih, ingin bikin tempat nongkrong kayak coffee shop gitu, di mana para Brothers bisa kongkow di sana. Nantinya juga bakalan ada Wall of Fame yang berisi tentang foto dan testimoni pelanggan yang udah pernah dateng ke store khususnya yang di Bandung,” ujar Heru selaku Store Manager dari Bro.do.

Satu hal yang aku suka banget dari Bro.do adalah konsistensi untuk memberikan kualitas dan pelayanan yang oke banget. Memang bukan terhitung start-up baru, tapi menurut aku di usia yang hampir sewindu ini sudah setara dengan perusahaan nasional lainnya. Gimana nggak, kalau kita ngomongin soal bahan itu nggak boleh dibercandain, bukan stand up comedy soalnya. Naon euy. Beneran, nih, Bro.do yang terkenal sama produk per-kulitan-nya ini hanya memilih kulit sapi terbaik buat dijadiin bahan dasar produk-produknya, mulai dari sepatu sampai ke jaket kulit. Menariknya, sisa-sisa kulit yang nggak terpakai itu nggak terbuang sia-sia melainkan dijadikan aksesoris seperti gantungan kunci dan pernak-pernik lainya. Aku mah nungguin dorokdok merk Bro.do ah, bisi we aya, pasti raos, pan kulit sapi na alus. Hehehe.

Sebagai pelaku industri kreatif, inovasi juga harus terus dilakukan supaya nggak kalah saing dengan pengusaha lainnya yang bergerak di bidang yang sama. Bagi Bro.do, menghadirkan kualitas dan eksklusivitas buat para penggunanya merupakan salah satu strategi, memanggil pelanggannya dengan kata sayang “Brothers” menurutku udah bikin pelanggan merasa dihargai. Ya biasanya nggak pernah disayang kali sama pacarnya meureun nya? Selain itu, tipe sepatu premium pun dikeluarkan Bro.do supaya sedikit “naik tingkat”.

Diberi nama Bro.do Legacy, tipe sepatu yang dibuat dengan metode Goodyear Welting yang dibuat 100% oleh tangan-tangan handal para shoemaker kepercayaan Bro.do menjadi produk unggulan dari mereka. Butuh ketelitian dan kemahiran luar biasa untuk “craft” sepatu ini, harga yang dibanderol juga jauh berbeda dari seri sepatu Bro.do lainnya. Seri Legacy ini berada di harga 3,6 juta per pasang namun khusus pre-order dilepas seharga 2,9 juta. Hmm, bisa beli dorokdok berapa kilo tuh ya? Eits, tapi dengan harga segitu sangat-sangat sebanding dengan apa yang kamu dapetin. Nggak percaya? Beli makanya!

Tapi aku rada iri ih sama para Brothers ini karena Bro.do masih belum banyak ngeluarin produk buat cewe. Kata Indra, produk cewe lebih sulit untuk dibuat karena biasa lah cewe kan demanding gitu hahaha nggak ketang. Tapi ternyata Bro.do menyiasati dengan menghadirkan edisi Signore dan Ventura yang bersol tipis dengan nomor-nomor kecil, mulai dari 36 sampai 48. Wow, itu sepatu buat anak SMP sampai buat Yeti bisa tuh.

Di tahun 2017 nanti, Bro.do juga bikin edisi spesial bersama dengan Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman. Bikin apa cik? Sepatu silat! Widih asyik banget kan. Bro.do emang nggak mau jadi kacang lupa kulit, nama Indonesia ingin terus dipopulerkan, makanya kolaborasi yang dilakukan oleh Bro.do nggak pernah ngelupain nilai lokal. Selain berkolaborasi dengan seniman lokal, Bro.do juga membuat sol dengan bentuk Nusantara dan Parang, supaya ke mana pun kamu pergi akan meninggalkan jejak Indonesia , E&Q2 euy. “Tapi kami belum ada niatan untuk memperbesar pasar ke Internasional, sih, mau memenuhi permintaan dari Brothers lokal dulu,” lengkap Indra pas ditanya soal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pasalnya Bro.do selalu mementingkan kualitas bukan kuantitas, realistis aja kalau masih belum bisa memenuhi standar Brothers di luar sana kita puaskan yang di sini dulu. Eh naon ih bahasana naha kieu.

Tahun 2017 selain untuk mengembangkan konsep coffee shop dalam store Bro.do, tim juga ingin fokus ke dalam satu produk edisi Bro.do Legacy dan kolaborasi-kolaborasi lainnya terlebih dahulu sebelum melebarkan sayap ke pasar internasional. Ya siapa tahu taun depannya lagi jejak Nusantara bisa ada di antara beceknya jalan di Paris. Mantep nggak tuh. Pokoknya pengennya fokus pasar dalam negeri dulu supaya bisa jadi pelopor sepatu kualitas ciamik, nanti kalau yang lain udah mulai “curi-curi” ide, baru deh cus keluar!

 

Foto: Alfi Prakoso