Press "Enter" to skip to content

Bedchamber : Cerita dibalik “Kasur”

Aloha warga kreatif! Pada datang nggak ke Keuken #5 : The City Hall Fairground di Balai Kota Bandung beberapa waktu lalu? Kalau saya mah datang, soalnya ada beberapa misi terselubung yang saya emban. Ceilah bahasanya. Diantaranya, ngeramein booth ROI! yang live streaming disana, cuci mata liatin dedek gemes, sama satu lagi, nonton Bedchamber. Yeay!

Eh, eh, kok bpada berkerut gitu jidatnya? Nggak hapal yaa siapa mereka? Heu, sini saya kenalin. Mereka adalah Ratta (vokal/gitar), Smita (bass), Abi (gitar) dan Ariel (drum) yang mengusung Indie-pop. Perkenalan saya sama mereka dimulai dari sekitar sebulan yang lalu, waktu mereka melepas single Youth yang merupakan teaser dari EP perdana mereka, Perennial. Ternyata selain musiknya yang menurut saya easy listening, bassist-nya teh geulis siah ih, duh jadi salah fokus.

Setelah mereka beres manggung, saya langsung deketin mereka. Niat awal cuma mau kenalan sama bassist-nya, tapi setelah dipikir-pikir kenapa nggak sekalian aja saya interview? Kan bisa sekalian legalisir EP-nya juga. Xixixi. Yuhu, mereka mau ngeluangin waktunya buat di-interview! Asik, jadi seneng. Pada penasaran kan sama isi interview-nya? Sok atuh mangga disimak hasil chit-chat saya sama band asal Jakarta ini!

Gimana, sih, sejarah terbentuknya si Bedchamber ini?

Abi: Jadi, kita bertiga (Ratta, Abi dan Smita) itu partisipan dari sebuah pameran.

Ratta: Iya, partisipan dari pameran seni rupa yang kita bikin di liburan tahun lalu, jadi asalnya gue cuma kenal mereka di internet doang, dan akhirnya gue ajak. Pas event itu tuh, kita ngobrol-ngobrol banyak. Ternyata kita sama-sama pengen nge-band, yaudah akhirnya kita jamming-jamming, terus pada akhirnya Ariel nyusul masuk. Ariel itu temen kampus gue, gue ajak karena dia maen drumnya jago banget. Hahaha.

Kenapa namanya Bedchamber? Kenapa nggak Bedroom? Atau Bedcover?

Ratta: Sebenernya kita sempet bingung nama bandnya apa, terus kita lempar-lempar random words gitu.

Abi : Apa aja sih namanya, dulu?

Smita : Tissue Culture

Ratta : The Cozy

Abi: European Drums, kita tuh cari yang bener-bener duduk bareng-bareng itu nggak ketemu.

Ratta: Terus tiba-tiba Smita nyeletuk aja, Bedchamber, terus kita mikir, kenapa nggak? Gue sempet nyari-nyari, ternyata bed itu tempat yang menurut kita banyak momen terpenting dalam hidup itu di kasur, kayak lo lahir di kasur, tidur di kasur, even nanti lo have sex juga di kasur, dan kita juga berharap nanti suatu saat mati di kasur.

Sebelum ngeluarin EP dan teasernya kemarin itu kan ngeluarin single Drift Away, kenapa jeda antara rilisnya Drift Away dan EP ini teh cukup jauh? Apa karena mempersiapkan EP-nya, mengolah musiknya lagi, apa gimana?

Ratt: Sebenernya Drift Away itu semacam perkenalan. Kan kita waktu itu udah nge-band beberapa bulan, dan kita pengen ngerekam satu lagu.

Abi: Waktu lagi excited-excited-nya.

Ratta: Kita pengen coba rekaman tuh kayak gimana, kita pengen upload lagu di internet supaya orang notice Bedchamber. Yaudah Drift Away itu sebagai perkenalan dari Bedchamber itu sendiri. Dan alasan prosesnya agak lama itu karena kita kuliah.

Terus, kenapa sih milih genre Indie-pop?

Ratta: Karena kita suka, sih.

Smita: Sebenernya kita nggak nentuin sound yang kita maenin,tuh, kayak siapa gitu. Nggak gitu, sih.

Abi: Jadi yaa jalan aja gitu, awal Bedchamber terbentuk sampe sekarang itu beda banget. Pas awal-awal kita nge-band, kita malah nge-cover Weezer, beda banget sama sekarang, tuh.

Ratta: Sebenernya kita punya latar belakang musik yang beda-beda, tapi kita coba satuin. Jadi misalkan Abi maen kayak gimana, coba dikeluarin, gue mau kayak gimana, kita cari biar harmonisasinya bisa masuk, dan hasilnya kayak gini.

Smita: Dan semua itu ketemunya di Indie-pop.

Cover Perrenial EP
Cover Perennial EP

Kan kemaren rilis EP tuh yang judulnya Perennial, Perennial itu apa sih maksudnya?

Smita: Jadi Perennial itu artinya tumbuhan yang tumbuh dua kali setiap tahun, jadi dia waktu Spring keluar, pas Fall keluar lagi.

Ratta: Which is?

Smita: Which is….

Ratta: Itu coba kita jadikan sebagai analogi dari EP Perennial ini, karena kita kan fokusnya lebih ke diri kita sendiri. Karena proses EP ini terjadi pada saat kita mengalami proses transisi masa hidup dari teenage ke young adult, pas kita bikin materi ini tuh kita masih 19 tahun, dan pada saat rilisnya kita umurnya 20 tahun. Jadi menurut kita dari 19 ke 20, terjadi transisi yang cukup banyak momen yang terjadi disitu, karena pada saat kita jadi young adult kita udah harus banyak mikir, kita udah nggak bisa seneng-seneng lagi kayak dulu. Di fase ini, kita harusnya udah bisa mikir ke depannya mesti ngapain, gitu. Dan proses pertumbuhan itu yang kita analogikan di Perennial EP ini.

Oh, makanya di backcover-nya itu ada tumbuh-tumbuhan gitu.

Ratta, Abi, Smita : Toge, toge, toge….

Oh iya, toge, ahahaha. Kenapa sih milih bassist cewek? Apa gara-gara pertemanan, apa gara-gara ada hubungan khusus di dalam band member-nya ini? Apa gimana?

Smita : Kita sebenernya kembar (nunjuk Ariel)

Oh kembar? Jadi karena ada hubungan keluarga gitu jadi diajak?

Smita : Eh, nggak deng, kita nggak kembar.

Mirip juga sih tapinya. Hahaha. Jadi, kenapa?

Ratta: Nggak sih, nggak gimana-gimana. Kita emang udah temen baik, jadi yaudah, kenapa nggak gitu.

Abi: Emang ketemunya kayak gini.

Smita: Bukan gimmick kok, gue bisa maen bass kok. Cieciecie.

Emang nggak bikin ribet gitu ada band member cewek? Biasanya kan agak ribet.

Ratta : Nggak kok, mungkin gue malah lebih ribet dari Smita, nggak tau deh.

Smita : Nggak beda kok, punya band member cewek atau cowok, sama aja.

Coba sekarang certain dong gimana proses penggarapan EP-nya ini. Mau pendek, mau panjang, bebas lah sok.

Ratta: Kita kan baru setahun umurnya, dan dalam setahun itu kita cukup rajin buat bikin materi. Lagu kita sebenernya cukup banyak, walaupun banyak transisi gitu diantara lagunya yang cukup beda-beda. Terus kemaren pas liburan kuliah, kan cukup lama tuh, 3 bulan, karena kita punya band dan banyak materi, kenapa nggak kita bikin EP aja? Akhirnya karena kita pengen bikin EP dan juga minimalisir budget, kita bikin studio rekaman di kamar gue. Walaupun sebagian kita rekam di studio beneran, kayak drum sama vokal. Terus Smita ngegambar artwork-nya, dan akhirnya tanggal 31 September kemarin, alhamdulillah bisa rilis.

Berarti ini 50% lebihnya tuh Home Recording yaa? Keren keren. Terakhir nih buat Bedchamber, ada pesan-pesan gak buat anak-anak muda yang pengen mulai bermusik?

Ratta: Cukup nekat aja sih.

Abi: Main ajalah pokoknya mah.

Smita : Oh iya, kita juga alat-alatnya minjem, lho. Pokoknya mulai aja sih, nggak usah keren-keren startup-nya, yang penting lo coba main musiknya dulu.

Ratta : Yang penting, kalau lo udah mulai, semua nanti ada jalannya.

Well, thank you Bedchamber buat waktunya! Kapan-kapan maen ke Bandung lagi yaaks! Sukses juga promosi EP-nya, muehehe.

Twitter : @bedchamber

Foto : Alfi Prakoso

Neng, ayo neng. Ayo main pacar-pacaran.