Batman: The Killing Joke (2016): Pembuktian yang Bertele-tele

Indeks Prestasi Keren: 6.5/10

Kalau dipikir-pikir, kehadiran orang lain yang kontras dari kepribadian kita memang terkadang suka mengambil perhatian kita. Nggak jarang juga rasanya kayak jadi sepasang magnet. Kadang bisa bersatu, kadang juga bisa saling menolak atau patonjok-tonjok. Ya, mau gimana juga, ketertarikan antar satu sama lain harus diselesaikan agar bisa melanjutkan hidup, walaupun hidupnya bakal berbeda 180 derajat. Kurang lebih seperti itu yang digambarin dari film animasi Batman: The Killing Joke, yang merupakan sebuah adaptasi dari novel grafis yang selalu dibilang sebagai the definitive origin dari The Clown Prince of Crime.

Mungkin kalau yang udah baca bukunya, udah tau, dan udah berharap jalan ceritanya bakal se-dark dan sangat mengerikan untuk dibayangkan. Sayang, beribu sayang, nggak terlalu seperti itu di filmnya, padahal film ini tuh, rated-R. Mungkin pembuatan film ini masih menghitung-hitung nilai estetikanya. Wajar.

Dengan adanya penambahan tokoh Batgirl (Tara Strong) yang dominan, ngasih kesan kalau “hubungan” Batman (Kevin Conroy) dan The Joker (Mark Hamill) butuh trigger khusus agar maksud ceritanya dapat tersampaikan. Ya, nggak jelek, sih, penambahannya, cuma jadi terkesan memaksakan aja gitu.

Menurut saya, rivalitas Batman dan The Joker itu cenderung berkutat untuk membuktikan kalau orang waras bisa jadi gila, dan juga sebaliknya. Kompleks, tapi dieksekusi secara logis. Nggak perlu bumbu-bumbu emosi yang berlebihan, karena hanya butuh satu tindakan untuk prove a point. Kalau butuh serangkaian peristiwa namanya bukan ngasih bukti, tapi PDKT. Eh, tapi PDKT juga sebuah bukti kalau emang lagi ngedeketin orang. Lieur ah.

Untuk hasil animasinya sendiri, ya, nggak bisa dibilang bagus atau jelek sebenarnya. Buat kalian yang kecilnya suka nonton serial animasinya DC/Warner Bros bakalan kerasa kalau film ini digarap sangat serius. Kalau yang suka nonton animasi Jepang, ya, beda jauh. Amerika sama Jepang di peta nggak deketan soalnya.

Film ini sebelum perilisannya emang udah ditunggu-tunggu banget sama saya. Selain dari material utamanya yang emang berkualitas, karakter Batman dan segala yang ada di hidupnya punya tempat tersendiri di hati saya. Ciegitu. Terus, karena kembalinya Kevin Conroy dan Mark Hamill sebagai pengisi suara utama juga yang bikin saya pengen ngerasain jelmaan Batman dan The Joker terbaik, menurut saya. Jelmaan… Siluman meureun.

Buat yang udah nonton tapi berbeda pendapat, ya, nggak apa-apa. Saya kan Spaceboy, si sotoy. Hehe. Tapi kalau yang belum dan penasaran, segeralah menonton. Agar nantinya bisa ngobrol. Kalau nggak ada bahan obrolan suka bingung euy.

*Tom & Jerry’s Opening Score*