Press "Enter" to skip to content

Babakan Siliwangi yang Bukan Hanya Forest Walk Saja

Kalau kamu punya waktu santai banget, coba cari tau deh data jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata Forest Walk Babakan Siliwangi, atau yang akrab kita sebut Baksil. Coba tanya ke Badan Pusat Statistik atau Disbudpar Kota Bandung. Rame bener pastinya. Hampir tiap hari sering banget tuh orang foto-foto. Apalagi weekend. Timbang jogging di Sabuga, yang terletak tepat di sampingnya, jalan kaki seseleket di forest walk lebih menjadi pilihan utama. Alasannya? Mungkin sesuai fitrah manusia, ingin selalu berada di atas~

Dulu, sebelum ada forest walk, kita bisa santai menelusuri hutan kota di bawahnya. Berasa sedang tersesat di hutan belantara lalu bertemu Tarzan si raja hutan yang diperankan oleh Mandra. Melewati lokasi mata air Babakan Siliwangi yang sekilas tampak seperti jamban umum. Lalu sampailah kita di sepetak lahan, tempat berlangsungnya adu domba Garut yang punya nilai tradisi dan budaya. Ada tempat duduk model tribun buat penonton. Sering orang-orang yang ogah berisik pada nongkrong di situ. Tenteram. Palingan diajak ngobrol warga lokal. Ya, tunawisma yang menetap di situ. Kadang digonggongin anjing. Dulu juga sempat ada acara musik digelar di sana, namanya Musca, dalam rangka mengaktivasi Baksil sebagai ruang publik dengan cara yang asyik. Sekarang mau diem di situ, eh yang di atas ribut. Agak males.

Sejenak kembali ke awal mula pendirian, Pemerintah Kota Bandung terdahulu memiliki tujuan untuk menjadikan Baksil sebagai area yang bisa dinikmati publik dengan tetap menjaga ekologinya. Hal ini sempat bertentangan dengan Walhi Jawa Barat, terkait betonisasi, tapi sekarang ya jalan-jalan aja sih aktivitas tamasya di sana. Dua ribu untuk parkir motor.

Selain sebagai tempat menikmati hutan kota dan berkumpul bersama sanak saudara, jangan lupa untuk mengulik banyak hal yang ada di sana. Entah itu sejarah adu domba, titik mata air, kegiatan yang ada di sanggar seni, sejarah tentang rencana pendirian restoran dan apartemen di masa lalu, atau kenapa harus ada Tempat Penampungan Sementara sampah di gerbang masuk menuju ke sana. Ya, kalau kamu punya waktu santai banget itu juga.

Banyak hal yang sebenernya nggak ada di internet euy, jadi harus nanya. Bisa aja, sih, banyak nanya ke yang punya warung di Baksil. Warung yang letaknya ada di ujung, kalau pas belokan ke pintu masuk Sabuga mah ini terus lurus. Nah, di situ ada tempat parkir juga. Dua ribu untuk parkir motor. Inget. Yaudah ayo.


Terkait mata air yang ada di Babakan Siliwangi bisa kamu baca di sini. Juga tradisi adu ketangkasan domba hajatan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), artikelnya ada di sini. Nah, kalau di bawah ini, beberapa galeri foto yang sayang kalau cuma disimpan di folder laptop.

contains thirty-eight reflected transparent feels with variable dimension.

Comments are closed.