Album: Tulus – Monokrom

Indeks Prestasi Keren: 7.5/10

Bisa dibilang Tulus itu salah satu artis lokal Bandung yang karyanya diakui dan dianggap punya kualitas oke, produktif pula. Di pertengahan tahun lalu, Tulus mengeluarkan single Pamit, dan akhirnya rilis juga album penuh ke-3 yang dikasih judul Monokrom. Aku terkesan excited, ya? Hehe. Album ini berisikan 10 lagu yang “Tulus” banget dengan sentuhan nada-nada baru, bikin album ini cukup melejit di minggu pertama setelah dirilis.

Dibuka dengan Manusia Kuat yang punya beat agak berbeda dari lagu-lagu Tulus yang sebelumnya. Nggak tau kenapa, nih, asa aku ngerasanya teh ada feel bulan ramadhan-nya gitu, lho, kayak lagu-lagu yang diputer menjelang lebaran gitu. Hehe. Tapi aku suka banget liriknya! Bikin semangat dan pas banget buat kalian yang lagi ngerasa rendah atau nggak bisa apa-apa. Setelahnya, dilanjutkan dengan dua lagu yang senada dengan lagu di album-album berikutnya. Pamit dan Ruang Sendiri yang dirilis terlebih dahulu dan punya gaya yang sama: lirik implisit dan slow jam beat. Bukan space jam.

Walaupun bukan fansnya Tulus, tapi ada satu hal yang aku suka dari lagu-lagunya; Nggak Picisan! Lagu Tukar Jiwa, Tergila-gila, dan Cahaya bisa ditebak pasti lagu cinta lewat judulnya, nah tapi Tulus berhasil mengemas kisah romansa yang nggak picisan jadi nggak menye-menye gitu. Dibungkus sama nada-nada baru, lagu-lagu ini kayaknya bisa jadi hits ngikutin kesuksesan Pamit yang diputer mulu di radio hits terbaik dunia.

Setelahnya ada Langit Abu-Abu menjadi perbatasan antara lagu cinta senang dan lagu cinta yang bikin nangis. Jujur ini lagu favorit aku di album Monokrom. Baladanya sama seperti lagu Sewindu di album perdananya, TULUS (2011), tapi dikemas dengan lantunan piano mellow dan lirik yang jleb banget gitu. Cocok buat yang sering dijadiin pelarian sama si eneng.

Lanjut dengan lagu Mahakarya dan Lekas dikemas dengan gaya baru, kayak drum yang simpel, backing vocal dari paduan suara, dan ukulele. Mahakarya agak kayak lagu-lagunya Budi Doremi, sih… Akhirnya sampai juga di lagu pamungkas yang sekaligus jadi judul dari album ini, Monokrom. Menurut aku lagu ini jadi penutup yang pas. Bercerita tentang perpisahan dan kenangan ke entah siapa itu. Kalau yang ini agak kayak tipe lagu SO7 dibalut dengan gaya Tulus-esque.

Dinamika lagu di album Monokrom ini disusun dengan menarik oleh Tulus. Dimulai dari lagu penyemangat, dilanjutkan dengan lagu implisit ala Tulus dan lagu romantis positif sampai roman melankolis lengkap. Semua ada di sini. Kayak rujak aja, nih.

Tulus emang nggak pernah lepas dari lirik-lirik implisit dan pemberi semangat, sebenernya agak bosen, sih, ngedengerin musik khas Tulus dari dua album terakhir. Mungkin karena alasan itu di album ini banyak sentuhan instrumen dan aura baru. Seneng deh kalau ada album yang bagus terus lagu-lagunya enak semua, tapi menurut aku yah, Tulus terlalu cepat ngeluarin albumnya. Bukannya nuntut untuk tahan karya dan nyuruh supaya nggak produktif (hey, harus disyukuri ya produktifitas itu!), tapi orang jadi nggak kangen dengan karya-karyanya. Album ini mungkin akan lebih sip dan mantap kalau dirilis akhir tahun 2016 atau awal 2017. Eh taunya, bikin album lagi taun depan. Nggak apa, produktif!!!

 

Tracklist:

1. Manusia Kuat

2. Pamit

3. Ruang Sendiri

4. Tukar Jiwa

5. Tergila-gila

6. Cahaya

7. Langit Abu-abu

8. Mahakarya

9. Lekas

10. Monokrom