Album: Taring – Orkestrasi Kontra Senyap

Indeks Prestasi Keren (IPK): 8/10

Setelah dari awal bulan Oktober disebar secara unduh gratis via Grimloc Records, single Kontra Kebisuan dari Taring langsung jadi salah satu yang bersemayam di playlist saya. Dari situ saya malah bertekad jadi pengen punya albumnya secara gratis juga. Astaga, santun betul sikap saya ini.

Beruntunglah di minggu ke-3 bulan Oktober saya ada rezeki lebih buat menggondol rilisan fisiknya lewat toko kesayangan umat indie se-Ciumbuleuit. Nah, selepas dari situ jadi weh pengen sedikit ngulas album Orkestrasi Kontra Senyap ini, yang cukup berhasil bikin saya flashback ke zaman nangkring di Palaguna dan jadi inget mamah. Kenapa bisa kayak gitu? Karena Orkestrasi Kontra Senyap ini terasa begitu personal dan pas!

Saya sempet bingung, kenapa harus pake tanda seru di akhir kalimat barusan? Hehe, emosi kitu? Ah, langsung aja deh. Dibuka dengan Kontra Kebisuan, lagu yang juga menjadi single Taring ini memang nggak membosankan. Buat saya, sih, nggak. Permainan tempo yang apik dari Gebeg, bener-bener memanjakan telinga saya yang manja. Kumaha? Hehehe.

Toleransi yang jadi nomor ke-2, sebuah track yang bikin saya inget ke zaman SD, di mana sebuah kesalahan itu bisa dioborolkeun, karena yang benar nggak bisa merasa paling benar. Aduh, beurat teuing teu? Jadi ngelantur gini. Lanjut menuju track ke-3, saya malah keingetan mamah di Baleendah, karena track berjudul Ibu langsung membius saya dengan intro yang menenangkan, terus secara tiba-tiba dihantam dengan riff dan dentuman yang khas dari Taring. Track yang menurut saya paling ‘pelan’ ini, cukup memberi pengejawantahan lain dari sosok seorang Ibu. Kalau dengerin lagu ini, bawaannya jadi pengen cium tangan mamah, sambil minta ongkos sekolah. Hehe. Santun.

Balada Absurditas hadir di urutan ke-4, track yang mengingatkan saya untuk nggak lupa makan-makan dan minum-minum bersama teman. Track yang perpaduan vokal dan instrumennya cukup sederhana ini, dipercantik dengan bunyi denting gelas yang beradu. Menyuruh kita agar mengira-ngira sebuah suasana yang seru di dalam bar. Tapi saya nggak tahu pasti, siapa yang sangka kalau bunyi dentingan di track ini ternyata adalah suara bising gelas di warkop. Bisa wae kan?

Lagi-lagi, di dua nomor berikutnya eksplorasi dari Taring terasa begitu matang di track berjudul Anomali dan Ragukan Aku Tanpa Ragu. Kalau sebelumnya dipenuhi riff-riff hardcore punk era 90-an, di kedua track ini beberapa sentuhan metal hadir mewarnai. Warna sound-nya jadi lebih warna-warni. Permainan tempo di setiap track-nya memang nggak monoton, meski ada beberapa bagian yang konstan, tapi takarannya pas. Tetep berasa seger.

Tapi, kayaknya, ya, track ke-7 yang berjudul Polaroid seperti sengaja disisipkan sebagai jeda istirahat, setelah dihantam enam track yang bikin ngesang, track instrumental berdurasi 2 menit 24 detik ini mengajak kamu buat ngarenghap. Seolah-olah bilang “Sebat dulu weh, Kang”.

Setelah rileks sejenak, tiba-tiba intro yang selonong boy langsung menghentak dengan beat yang lebih cepat. Lagu berjudul Iblislah Aku hadir menjadi track yang menurut saya cukup menggambarkan isu prasangka sosial belakangan ini. Jadi inget pas sering main di Palaguna, suka dikatain ‘orang dewasa’ gara-gara saya nangkring pake seragam sekolah muslim, tapi malah nangkring di tempat musik brang-breng-brong. Lah, so what? Kela, punteun, curhatna nyambung teu? Hehe. Sebenernya, sih, semua track di album ini menghadirkan warna sound dan narasinya masing-masing, tapi, track ini jadi yang favorit ah. Lebih nyoco kana manah.

Senja Di Atas Payung Hitam, Insureksi, dan Kerangka Mawar jadi lagu selanjutnya yang nggak kalah berenergi. Kemampuan Taring bernarasi di album ini sangat layak diacungi jempol. Tentu, selain eksplorasi musik yang semakin berwarna dan komposisinya yang juga terasa semakin mantap, entah kenapa album ke-2 ini berasa lebih relate dan begitu personal.

Adil Nihil didaulat untuk menjadi track terakhir di album Orkestrasi Kontra Senyap. Sebuah track yang liriknya ditulis oleh Morgue Vanguard ‘Homicide‘ ini, cukup apik dibawakan oleh Hardy. Euh, sayangnya saya cuma dengerin Taring lewat CD, kalau aja nonton mereka langsung, saya pasti minta encore. Jol kitu. Pokoknya, album ini adalah paduan komposisi musik dan narasi dari Taring yang layak kamu resapi tiap track-nya. Bravo, Taring!

Tracklist:

1. Kontra Kebisuan

2. Toleransi

3. Ibu

4. Balada Absurditas

5. Anomali

6. Ragukan Aku Tanpa Ragu

7. Polaroid

8. Iblislah Aku

9. Senja Di Atas Payung Hitam

10. Insureksi

11. Kerangka Mawar

12. Adil Nihil

si sehat dan lincah