Album: Nadafiksi – Teorema

Indeks Prestasi Keren (IPK): 8/10

Eh, siapa yang kemaren dateng ke acara perilisan debut album Teorema dari Nadafiksi? Saya yang pake flannel kotak-kotak dan rambut gondrong. Terus, kenapa? Hahaha. Intermezzo atuh, euy. Btw, rugi siah kalian yang nggak dateng. Udah mah bisa nonton langsung Nadafiksi secara intim, banyak yang ena’-ena’ juga bosque. Heu. Nah, beberapa hari yang lalu ROI! udah pernah ngasih tau, kalau Nadafiksi bakal ngadain showcase dan bincang santai bersama Idhar Rez, sekaligus perilisan debut album yang dirilis oleh Omuniuum. Tuh, kalau kamu baca berita sebelumnya, pasti dateng.

Udah lumayan lama, sih, saya tau Nadafiksi, tapi pasti ada temen-temen yang lebih duluan tau daripada saya. Pertama kali saya tau itu ketika mereka merilis single album yang bertitel Marujelaba (2013). Nah, saya langsung demen deh. Istilahnya mah jatuh hati pada pandangan pertama. Edan. Selain itu, dari beberapa aksi panggungnya, mereka nggak hanya gonjreng dan nyanyi, kadang disertai dengan aksi teatrikal gitu. Seperti pada tahun 2015 silam di salah satu acara di Bandung. Keren, kan?

Langsung aja kita bahas album Teorema itu sendiri. Album Teorema banyak ngelibatin beberapa musisi atau bisa dibilang temen-temennya Nadafiksi. Jadi, nggak hanya Dwi Kartika Yuddhaswara (vokal/gitar akustik) dan Ida Ayu Made Paramita Saraswati (vokal) doang, lho. Sebut aja Achmad Kurnia (cello) dan Bani Ambara (flute) yang juga mengisi instrument tambahan dari Nadafiksi. Selain itu, ada Tesla Manaf. Ya, siapa yang nggak tau sama musisi kelewat pintar ini. Doi mengisi aransemen di album Teorema yang sekaligus menjadi produser juga. Mantap banget, ya? Jelas dong sayang~

Nggak bisa bilang nggak bagus sama album Teorema ini. Racikan magis dari Tesla Manaf dan juga Nadafiksi yang ngabisin waktu 3 tahun menghasilkan sesuatu yang menarik. Menariknya adalah ketika Tesla Manaf yang kita kenal sebagai gitaris jazz yang maha dahsyat ikut andil di dalam duo akustik folk. Alhasil, Teorema berisikan 9 lagu yang kurang lebih berdurasi 49 menit. Album ini menjadi album konsep. Eh, gimana? Iya, jadi Teorema dibagi menjadi 3 part, yaitu fantasi, indrawi, dan ilahi. Maksud dari fantasi itu di mana Nadafiksi lebih apresiasi terhadap imajinasi-imajinasi yang ada. Nah, kalau indrawi sama ilahi mah habluminannas dan habluminallah gitu ceunah kemaren kata Ida mah. Hehehe. Teorema ngasih folk dengan nuansa berbeda siah. Jadi, Nadafiksi berhasil lepas dari mindset kalau folk itu gitu-gitu aja.


Di part pertama, fantasi, berisikan dua lagu, yaitu Barisan Khayalan dan Menari di Udara. Lagu Barisan Khayalan sebenernya udah mejeng dari dulu di Soundcloud mereka. Nggak jauh berbeda sama yang sebelumnya, lagu Barisan Khayalan di album Teorema juga tetap mainin full band, cuma ditambah dengan selingan melodi-melodi panjang nan cantik dari Tesla Manaf. Lalu di track ke-2 ada Menari di Udara. Lagu yang bakal saya dengerin paling sering. Nggak tau kenapa, mulai dari perpaduan gitar akustik, flute, dan cello-nya pas banget. Bikin kamu enak buat berimajinasi dan ngartiin liriknya itu bener-bener dapet banget. Jangan lupa, part reff-nya keparahan enaknya. Mungkin bisa jadi track paling favorit. Menurut saya, ya. Hehehe.

Lanjut part kedua tentang indrawi, ada lagu Susah Tidur Susah Bangun, Darimu Untukku, Bunga Matahari, dan Burung. Di lagu Susah Tidur Susah Bangun bisa dibilang paling beda daripada lagu Nadafiksi yang lain. Eksplorasi musiknya kenceng banget, bosque. Di sini mereka masukin aransemen sitar. Kebayang nggak? Pasti ada beberapa di antara temen-temen nanti mikir, “eh, kok begini?”. Hahaha, tapi menurut saya ini unik. Jarang banget band folk Bandung atau Indonesia kayak begini. Nadafiksi jadi agak-agak psychedelic dengan nuansa india-india gitu. Hal yang menarik bagi saya adalah selain komposisi musiknya juga cengkok dari suara Ida yang edan banget. Well, lagu ini kayaknya ngegambarin ketika kamu susah tidur, bergejolak kan tuh hayang sare, tapi susah padahal besok kuliah jam 7 pagi, taunya bangun telat. Track selanjutnya adalah Darimu Untukku. Yakin lah, lagu ini udah banyak yang denger. Di album Teorema, lagu ini lebih panjang kurang lebih 2 menit, karena kalau nggak salah, setelah saya ngebandingin sama yang dulu, ada penambahan lirik gitu. Kalau dari segi musiknya, nggak beda jauh. Tetep adem, tapi menyayat. Suara alto dari Yuddha, sih, yang bikin menyayat banget, apalagi di lirik “dan biarlah kini kusimpan rasa kekecewaan”. Oh, my lord.

Track ke-5, yaitu Bunga Matahari. Eh, kalem, ini bukan ngebahas mengenai kwaci, karena kwaci mah biji bunga matahari. Hehehe. Di lagu ini, Nadafiksi mengajak Sigit Agung Pramudita yang kita kenal sebagai former dari Tigapagi. Ya, kita tau lah, kualitas dari Sigit itu sendiri, perfecto. Nggak mengubah style dari vokalnya walaupun bukan di Tigapagi. Lalu lagu selanjutnya berjudul Burung. Style-style akustik kayak Kings Of Convenience kerasa banget, karena iringan musik dari cello nggak hadir di lagu ini. Musik sama liriknya syahdu banget dan menyenangkan. Petikan gitarnya sangat riang, apalagi kalau dengerinnya sambil liatin burung yang terbang bebas di angkasa. Kebawa suasana, enak.

Part ketiga sebagai penutup, nih. Di sini ngebahas tentang illahi. Langsung disuguhin sama lagu Seketika. Iya, lagu ini sebenernya judulnya Sentuh, cuma ganti titel. Agak creepy gitu euy. Nadafiksi memberikan unsur-unsur soundscape noise-noise, alhasil nyeremin lagunya, tapi di beberapa menit terakhir, pas ada suara keprok-keprok tangan gitu, udah nggak serem lagi da. Huhu. Nggak nyangka aja, bisa kepikiran. Sama kayak lagu mereka Susah Tidur Susah Bangun, lagu Seketika pun bisa dikatakan sangat unik. By the way, sempet nyesel, sih, dengerin ini lagu pas malem-malem. Lalu ada lagu Boenga Anggrek, kedengerannya, sih, di take-nya live, tapi nggak tau juga. Soalnya nggak bersih gitu sound-nya. Fyi, Boenga Anggrek ini sebenernya lagu lawas, lho. Nadafiksi mainin lagu ini bareng-bareng sama OSK (Orkest Stamboel Khajalan). Syair dan nuansa musikal yang dimainin nggak terlalu jauh dari versi tango yang dinyanyiin oleh Soemarni bersama Canary Orkest. Lagu yang sebenernya pernah direkam pada tahun 1940 ini adalah salah satu versi yang paling Nadafiksi demen. Sebagai penutup, ada lagu Pulang. Satu kata deh buat lagu ini; Terbaik! Konsepnya tuh kayak muterin lagu di kotak musik jadul yang dikasih sama orang kesayangan. Terus kamu bawa pergi kotak musik itu untuk merantau, terus kamu puter kotak musik tersebut dan timbullah rasa rindu. Edan!

Over all, jujur, saya masih takjub dengan musik-musik di album Teorema itu sendiri. Kekuatan lirik bernuansa metafora tetap menjadi acuan dari Nadafiksi untuk memberikan musikalitas yang bagus ditambah karakter vokal dari Ida dan Yuddha yang pas. Selain itu, komposisi musik yang mendukung, melengkapi nada-nada yang tercipta di album Teorema. Seneng banget, asli. Nggak cukup kamu baca spoiler dari saya doang, karena kamu harus dengerin langsung dan terjun menyelami album Teorema ini. Kalau kamu udah beli, jangan lupa sambil liatin artwork-artwork yang mejeng di sleeve albumnya, sangat menarik.

Yaudah, seperti biasa, kata-kata penutup yang sosoan bijak dari saya. Selalu dukung band kesukaan kamu dengan beli rilisannya ya. Biar band kesukaan kamu tetep ada. Hehe.

Tracklist :

  1. Barisan Khayalan
  2. Menari di Udara
  3. Susah Tidur Susah Bangun
  4. Darimu Untukku
  5. Bunga Matahari
  6. Seketika
  7. Burung
  8. Boenga Anggrek
  9. Pulang
“Bu Haji, daging?”