Album: Mooner – Tabiat

Indeks Prestasi Keren: 8,25/10

Setelah mengunggah preview albumnya pada akhir bulan Maret  alu, akhirnya band atau supergroup anyar asal Bandung yang sering memenuhi dunia Instagram dengan hashtag #nasipadangeveryday alias Mooner resmi merilis album perdananya yang bertajuk Tabiat! Hore! keprok dulu atuh warga kreatif. Biar menimbulkan budaya apresiatif.

Lama ditunggu–tunggu oleh para secret admirer di luar sana, album yang juga dirilis melalui label Bhang Records ini akhirnya muncul juga. Asik gini. Terus saya teh jadi memiliki niat untuk menganalisis album Tabiat. Bisa pisan menganalisis teh. Yaudah, langsung aja meureun ya. Album ini dibuka dengan lagu berjudul Buruh/Pemburu, dentuman bass dari mas Rekti yang bertempo cepat dan cukup depth diduetkan dengan suara floor drum dari Tama yang bikin penasaran, lalu disambut oleh gitar Uda Absar yang nge-doom dan vokal rock dari Marshella Safira bikin sirah kamu bakal mengangguk dengan sendirinya. Cobaan geura dengerin, bisi saya wadul. Tapi, yang bikin unik lagu ini tuh, ketukannya yang rada random antara stoner tapi tiba-tiba kamu bakal diajak nge-doom. Ah, pokoknya mah tetep enak.

Dilanjut dengan lagu kedua yaitu Fana, saat lagu ini di-play saya sempet senyum-senyum sendiri menghadap layar laptop pinjaman dari temen. Saya senyum gara-gara ada ketukan yang bernuansa dangdut dikolaborasikan dengan gitar Absar yang mendompleng lagu ini tetep macho. Di akhir lagunya juga diselipin suara dua ala-ala lagu zaman bareto. Sungguh cemerlang sekali mas-mas dan mba di Mooner ini. Haha.

Belum sempat diberi jeda takjub dengan lagu kedua, cepil si kami sudah diberi sound gitar yang gloomy dari Mas Absar yang berhasil diumpan balik dengan drum dari Tama yang “dugdugdug…dugdug…”. Iya, kurang lebih begitu bunyinya. Dipikir bakalan mirip lagi sama lagu sebelumnya, ternyata dugaan saya salah deui dong, warga kreatif. Ternyata ada kendang progressive di lagu ini, lagi-lagi diberi sureprise sama lagu Takana (Bagian 1). Senyum-senyum lagi deh saya, seneng banget dikasih surprise.

“Hei, pejamkan mata…” da embung atuh teh. Hehe. Begitulah penggalan lirik di lagu selanjutnya yang berjudul Hei. Lagu yang tereh (Hampir, RED) sama lagi dengan lagu sebelumnya, hanya ketukannya yang lebih mengalun dan suara synth yang khas banget dikolaborasiin dengan tabuhan drum brutal dari Um Tama menjadi ciri khas lagu ini. Abis itu saya dikenalkan dengan lagu kojo buat saya sendiri, yaitu Ingkar. Ketukannya yang deui wae bikin headbang tapi di vokalnya si teteh Safira yang rada melengking jeung desah sedikit bikin lagu ini terasa semakin stingak yang mendongkrak.

Belum selesai, setelah lagu Ingkar gendang telinga si kamih langsung diberi ketukan cepat dengan melodi pentatonik dari Uda Absar di lagu Lancang. Kalau kata saya, sih, aransemen lagu ini hampir mirip dengan lagunya The Sigit yang Let The right One In. Coba geura dengerin juga, bisi saya salah atau Lancang. Hehehe.

Next song aya Takana (Bagian 2) dengan alunan rhythm reverb dan diberi bumbu melodi yang aduhai bikin suasana rada cool, seperti saya. Flow-nya pas sekali yah, tos diberi heheadbangan langsung dikasih rehat dulu. Barageur pisan. Sehabis rehat dikit, ada suara gitar yang “Teng… tenononoung…”. Iya, suaranya “noung…”. Dibuka dengan sedikit overdrive dan tempo drum yang cepat dari lagu Serikat Penyembuh. Di lagu selanjutnya yang bertajuk Gelar, terselip suara gitar yang melodramatic. Naon pisan istilah saya. Lagu ini kalau kata si saya pas banget buat dimainin di gigs, soalnya ada part yang bisa bikin gerowokan bareng, tapi balik lagi, sih, pada nyampe nggak suaranya. Hehe.

Belum sempat liat judulnya, suara gitar mulai main, opening lagu yang mirip sama The Datsuns yang Bad Taste jadi pembuka lagu Seruh. Eh, tapi pembukanya aja yang mirip, ke sananya mah khas Mooner banget da warga kreatif. Lagi-lagi saya diberi rehat sama lagu Takana (Bagian 3) dengan suara senar yang dipetik ngahiung bari di-featuringkeun dengan melodi-melodi yang bikin sieun, tapi tetep enak, sih. Nah, nah, ini dia lagu terakhir dari album Tabiat, yaitu Ternganga. Apakah Mooner bikin lagu ini sambil nganga? Nggak lah. Sorry. Dengan ketukan drum yang pelan dan petikan gitar ala doom yang lalu berubah menjadi kencang dicampuradukkan dengan suara kendang. Oh, iya ada suara suling yang mirip sama lagu Naruto kalau lagi adegan sedih, tapi tetap sangar, karena dipadu dengan suara gitar overdrive sama drum yang patah-patah. Bikin lagu ini cociks banget buat jadi lagu penutup di album ini.

Album yang berisikan 12 lagu ini, saya rasa komposisinya bisa menjadi stimulus buat para pendengarnya agar langsung headbang saat pertama kali didangukeun. Setelah mendengar album ini saya makin penasaran dengan kejutan-kejutan apa lagi yang bakal dihadirkan Mooner di kancah musik nasional. Edan kieu. Apakah bakal ada kendang progressive lainnya? Haha. Kita tunggu kejutan selanjutnya.

Tracklist:

1. Buruh/Pemburu

2. Fana

3. Takana (Bagian 1)

4. Hei!

5. Ingkar

6. Lancang

7. Takana (Bagian 2)

8. Serikat Penyembuh

9. Gelar

10. Seruh

11. Takana (Bagian 3)

12. Ternganga

Pedestrian.