Album: Ghaust – Burning All The Golds

Indeks Prestasi Keren: 8/10

Salah satu kabar yang mengejutkan datang dari Ghaust, band instrumental asal Jakarta. Kisahnya harus diakhiri. Seperti halnya sebuah kisah, sejatinya memang harus menemukan akhir. Tentu, bisa dalam bentuk akhir yang menyenangkan atau bahkan akhir yang dipenuhi suasana haru biru.

Sejak menyeruak di tahun 2005, Ghaust menjadi band instrumental yang berbasis gitar dan drum, yang tanpa pernah menambal sisi ini-itu yang biasanya kerap terjadi di dalam skema bermusik dalam format band. Mereka tetap konsisten dengan cara bermusiknya dan memiliki pengikut yang lumayan berkomitmen untuk tetap mengikuti sepak terjang Ghaust.

Burning All The Gold adalah album perpisahan yang didedikasikan oleh Uri untuk Margino Edward ‘Edo’ Pedrico, yang pada bulan Mei lalu secara mengejutkan mengalami kecelakaan fatal dan harus merenggut nyawanya. Burning All The Gold merupakan kompilasi dari sejumlah trek yang pernah dirilis oleh Ghaust. Sepengamatan saya, sih, hampir nggak ada yang baru, berisikan 4 trek dan 1 rekaman hasil remix dari Morgue Vanguard. Hampir nggak ada yang berubah dari semua lagu di album ini, semua aransemen masih menohok seperti dulu.

Beberapa trek masih menampilkan tempo brutal di awal lalu mulai menurun saat di akhir lagu, begitupun dengan trek Among The Ashes dan Ascending masih hadir dengan penuh nuansa space-rock/post-rock/shoegaze. Termasuk sebuah trek Akasia yang di-remix oleh Morge Vanguard. Trek Akasia yang terdengar lebih noisy dibanding versi aslinya ini juga dimasukkan ke dalam rentetan 5 trek di album Burning All The Gold. Menghadirkan nuansa mencekam di awal dan memberi semacam celah perenungan di akhir. Saya malah jadi kebayang scene koboy yang pergi meninggalkan kota dengan gagahnya. Hehe. Random kieu.

Jadi, dari yang biasanya warga kreatif cuma nemuin Ghaust lewat single yang dirilis dalam jumlah terbatas dan secara terpisah, sekarang mah itu teh dibuat dalam kesatuan album utuh dan dalam bentuk CD. Mungkin agar mudah diakses oleh khalayak banyak.

Album ini menjadi interpretasi tentang bagaimana perpaduan yang begitu serasi antara Edo dan Uri. Nyaris nggak ada yang bisa menggantikan satu sama lain. Apa ya disebutnya? Nge-blend kitu? Paduan elemen metal, heavy rock, hardcore punk dan post rock memang terasa begitu kental di setiap treknya. Tapi, hiraukan sejenak soal teknis ini-itu. Mendengarkan album kompilasi ini, seperti mengikuti sebuah kisah dari dinasti-dinasti yang harus berakhir dengan mengubur dalam-dalam semua torehannya. Bisa pula dibilang sebagai akhir yang elegan. Eh, tapi bisa jadi cuma perasaan saya aja. Maklum, suka gampang kebawa suasana dan sering berkhayal. Sedikit reuwas selepas mendengar kabar bahwa band ini harus disudahi. Tapi, itulah kisah dari duo post-metal asal Jakarta, Ghaust.

Tracklist :

1. Among The Ashes

2. Ascending

3. Againts The Wind

4. Return Fire

5. Akasia RMX

si sehat dan lincah